Minggu, 03 Januari 2010

Ekonomi Sufistik

Oleh : Muhammad Gunawan

Everytime I try to keep in mind …
That I try to do everything because of God …
And I say God’s name deep in my heart
I witness that there is no god but Allah …
And Muhammad is the messenger of God

Sebuah bencana, apa pun bentuk dan ukurannya, selalu mengakibatkan bertambahnya kaum dhuafa. Sebagian dari kita yang mampu biasanya tergerak untuk memberikan sumbangan. Setiap ada bencana, para ekonom di Negara manapun juga akan menghitung dampak kerugian serta perkiraan biaya rehabilitasinya. Tapi, celakanya penghitungan nilai ekonomi secara konvensional tak pernah mampu memperhitungkan dampak positif yang ditimbulkan oleh bencana itu sendiri.
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Al-Nur: 22)
Allah SWT.mengingatkan melalui Rasulullah saw kepada orang-orang yang diberi kelebihan harta dan kelapangan dalam berusaha dalam salah satu interpretasi hadits sahihnya (HR. Bukhari Muslim) bahwa keberadaan orang-orang yang mampu banyak ditopang oleh keberadaan orang-orang yang tidak/kurang mampu. Oleh karenanya, orang-orang yang mampu tidak diperbolehkan sombong. Malah sebaliknya, mereka diharapkan memberdayakan orang-orang yang tidak/kurang mampu agar mendapat ridha Allah SWT. sang Maha Pengampun lagi Maha Peenyayang.
Pada saat terjadi bencana, kebanyakan dari kita akan kembali mengingat dan menggungkan nama Allah SWT. Sesungguhnyta ini dapat menjadi modal untuk pembangunan ekonomi sufistik yang lebih dari sekadar pembangunan materiil saja, tatapi juga pembangunan menyeluruh karena melibatkan juga aspek spriritual. Karena itu, masa pascabencana adalah kesempatan yang baik bagi para pengembang ekonomi umat untuk memberdayakan kaum dhuafa. Contoh paling konkret adalah bangsa Jepang sebagai pihak yang kalah di Perang Dunia ke 2. Walau mereka secara umum penganut Amaterasu Omikami (Dewa Matahari), semangat mereka membangun perekonomiannya pada era pascabencana bom atom sampai sekarang masih banyak dicontohi banyak Negara lain.
Adalah suatu kenyataan bahwa usaha kecil, yang biasanya dikelola oleh kaum dhuafa, sungguh merupakan kekuatan ekonomi nasional di banyak Negara. Memang, setiap Negara memiliki ukuran  yang berbeda dalam mengklarifikasi kaum dhuafanya. Namun, sesungguhnya orang-orang pada posisi sosial seperti inilah yang banyak membangun perekonomian sebuah Negara. Sebab, kredo kelas ekonomi dhuafa adalah: “kerja merupakan suatu keharusan untuk menopang ekonomi rumah tangga.”
Melihat kenyataan tersebut, sudah selayaknya jika pihak yang diberi amanah kekuasaan dari kemampuan “lebih” untuk memberikan perhatian serius bagi pembinaan kaum dhuafa di pascabencara. Pemberdayaannya pun sepantasnya memperhatikan Al-Quran Surah Al-Qashash : 77 yang mmpunyai esensi untuk meraih kebahagiaan akhirat dan dunia, berbuat baik terhadap sesama, serta tak merusak alam yang diamanahkan Allah SWT.kepada umat manusia.
Tujuan ekonomi sufistik juga sangatlah jelas, yaitu untuk mencapai keadilan sosial, keamanan sosial serta menjaga kesimbangan sosial bagi sebuah masyarakat. Dalam Islam, sosial justice atau kadilan sosial berarti memperoleh sandang, pangan, papan, alat produksi, pendidikan dan penjagaan harkat martabat yang memadai. Negara atau otoritas juga diharapkan membangun hubungan harmonis antara yang ber-Punya dan yang dhuafa dengan mengimplementasikan zakat, infak, sedekah, serta wakaf. Yang lainnya adalah dengan melakukan sharing productivity atau berbagi produktivitas dalam hal musyarakah, mudharabah dalam suatu Islamic Industrial Relationship (hubungan Industrial Islami) berbasis Qur’an dan Hadits.
Khusus untuk implementsi zakat, infak, sedekah dan wakaf, Allah SWT telah mengingatkan kita dengan firman-Nya, Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali Imran : 92)
Jika melihat perintah ini, dalam kerangka modern, sikap dasar ini  disebut altruisme (mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang diri sendiri). Makna altruisme ini sejatinya sungguh dalam, karena kita diwajibkan mengorbankan sesuatu demi memperjuangkan nilai kebenaran. Pada ekonomi sufistik terdapat kecenderungan untuk menerapkan nilai kebenaran karena mengusung konsep Sincerety towards Prosperity atau Keikhlasan Menuju Kemakmuran.
Untuk Indonesia, apalagi yang akhir-akhir ini banyak dirundung bencana, tidak berlebihan rasanya jika pemberdayaan kaum dhuafa ini oleh para pengikut altruisme dalam ekonomi sufistik dirumuskan dalam kata-kata: “Berpangkal pada tani & desa … berkembang dalam usaha mulia, perdagangan dan industri … berujung dalam masyarakat adil, makmur dan berdaulat … dalam rahmat Allah SWT.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar