Jumat, 08 Januari 2010

Kajian Intermedit Pertama Progres 09-10

 
  







Pada hari Kamis tanggal 07 Januari 2010, KSEI Progres bekerja sama dengan T-Smart (Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi Islam Tazkia) untuk menyelenggarakan Seminar Ekonomi Islam. “Apakah pengaruh kebijakan moneter terhadap pasar modal syariah dan konvensional??” Begitulah topik yang disampaikan oleh Abdul Wachid Al-Faizin, mahasiswa STEI Tazkia angkatan 6 jurusan Ilmu Ekonomi Islam pada hari itu.


Di awali oleh penjelasan moderatot, Ramadhan Nuzla perihal adanya krisis global yang bermula pada tahun 2008 dari kredit macet real estate di Amerika sehingga berdampak negative pada perusahaan-perusahaan di Indonesia. Pada waktu itu laju IHSG turun signifikan termasuk pula laju JII. Yang mulanya IHSG di level 1,111.390 pada 28 Oktober 2008 padahal pada 11 Januari 2008 IHSG pada level 2,830.263. JII di level 172.710 pada 28 Oktober 2008 namun pada tanggal 28 Februari, JII di level 517.814. Hal ini yang menjadikan dasar bahwa kebijakan moneter itu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap dua pasar modal tersebut. Namun, beliau member literature ada sebuah penelitian yang menarik, menurut penelitian Yusof dan Majid (2007) di Malaysia, suku bunga berpengaruh signifikan terhadap pasar modal konvensional, akan tetapi berpengaruh tidak signifikan terhadap pasar modal syariah.

Kemudian saudara Wachid menjelaskan secara sistematis mengenai bagaimana karakterisitik pasar modal secara ringkas, menurutnya pasar modal adalah kegiatan yang berhubungan dengan perdagangan surat-surat berharga seperti saham, obligasi dan sekuritas efek. Kemudian mengenai sejarah pasar modal yang telah ada sejak zaman VOC Belanda (14 des 1912) di Indonesia. Yang kemudian pada tahun 2007, Bursa Efek Jakarta dan Surabaya digabungkan menjadi nama baru yaitu Bursa Efek Indonesia (BEI).

Beliau memaparkan bahwasanya pasar modal syariah tidak berbeda definisinya dengan pasar modal konvensional, hanya pada pasar modal syariah perdagangannya berlandaskan syariah dan ketentuan yang telah disesuaikan dengan syariah Islam. Secara sederhana, pasar modal syariah juga bisa diartikan dengan pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah. Awal mula pasar modal syariah pada 13 Juli 1997 yang kemudian berubah menjadi JII (Jakarta Islamic Index).

Kemudian berlanjut pada definisi kebijakan moneter yang diartikan sebagai sebuah upaya untuk mengendalikan atau mengarahkan perekonomian secara makro ke kondisi peningkatan output keseimbangan dan atau terpeliharanya stabilitas harga yang lebih baik dengan cara mengendalikan jumlah uang beredar

Disusul dengan pemaparan literatur-literatur yang telah dilakukan sebelumnya mengenai pengaruh kebijakan moneter tersebut terhadap pasar modal, baik syariah maupun konvesional. Ada literatur yang menyebutkan bahwa pengaruh kebijakan moneter berpengaruh signifikan terhadap keduanya, ada juga yang menyebutkan tidak berpengaruh signifikan terhadap pasar modal syariah saja.

Saudara Wachid memberi kesimpulan berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa kebijakan moneter memiliki pengaruh terhadap pasar modal syariah terbukti pada waktu laju IHSG yang turun di 2008, sama dengan laju JII turun pula.

Presentasi saudara Abdul Wachid mendapat respon positif dari doesen pembimbingnya yaitu bapak Y.D Sanrego, selain itu juga menarik perhatian dari para audience untuk memberikan sejuta pertanyaan. Bertempat di Ibnu Khaldun, kajian ini mengundang banyak perhatian orang sehingga aula yang tadinya kosong atau hanya segelintir orang saja yang datang disulap bagaikan pasar. Dan kajian ini merupakan kajian terpadat dan terpenuh audience nya selama Progres mengadakannnya. kajian ini diwarnai dengan banyak pertanyaan oleh audience, namun tidak menyulitkan sang pemateri untuk menjawabnya. Dan keramaian di aula pun bukan tidak menghasilkan manfaat, tapi banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil.

Oleh : Divisi Pers n Publikasi Progres 09-10

download file presentasi : kajian 1


1 komentar: