Minggu, 03 Januari 2010

Minyak : Tak Mau Lagi Berpihak

Oleh : Achmad Edy Amin*

Tak sedikitpun dari kita mengingkari kekayaan bumi pertiwi. Jangankan benih, tongkat dan batupun jadi tanaman, begitulah koesplus mengisahkan. Tapi memang demikianlah adanya, tak cuma yang ada dipermukaan hatta yang didalam perut buminyapun mengandung beragam kekayaan yang tak ternilai, sebutlah minyak bumi sebagai satu contoh dari sekian banyak bahan tambang yang menunggu giliran untuk digali.
Naasnya, kekayaan alam yang ada tak berpihak sepenuhnya kepada penduduknya, yang mengaku sebagai rakyat dari sebuah negara merdeka dan berdaulat. Bagaimana tidak? Demi memperoleh beberapa liter minyak tanah saja diantara mereka harus berantrian panjang, dijatah pembeliannya terkadang mahal pula, bahkan tak sedikit dari saudara kita mengabaikan rasa persaudaraan ketika antri. Apakah ini arti dari kedaulatan dan kemerdekaan bangsa ini yang selalu diperingati tiap tahunnya dan dimeriahkan dengan adegan teater rakyat bertelanjang dada – gambaran kemiskinan – saling sikut atau injak teman, demi memperebutkan hadiah yang menggantung diatas pohon pinang tinggi menjulang masih dilumuri pelicin pula, sementara orang-orang berkecukupan dan ditokohkan duduk menonton sembari senyum puas bahkan bersorak-sorai melihat rakyatnya jatuh lagi dan lagi ketika menggapai hadiah yang kadang tak seelok bungkusnya?
Harga minyak menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 111 dollar per barrel pada 8 maret. Para analis pun memperkirakan harga minyak masih akan terus bergejolak. “Kenaikan harga minyak, melambatnya perekonomian AS, bergejolaknya pasar finansial global serta meningkatnya inflasi menjadi kombinasi hebat yang akan mengekang pertumbuhan ekonomi Asia yang berorientasi ekspor pada tahun 2008 ini," sebut para ekonom. Menurut ekonom Bank Pembangunan Asia (ADB), Cyn-Young Park, di Manila, seperti dikutip AFP, Dibandingkan dengan goncangan minyak pada dasawarsa 1970 dan 1980-an, kenaikan harga saat ini berlangsung di tengah pelemahan tajam yang terjadi di AS. Disebutkannya, inflasi, yang dipicu oleh membumbungnya biaya energi dan harga pangan, juga semakin menambah masalah. "Karena inflasi tinggi membatasi gerak bagi dilakukannya manuver di kalangan pembuat kebijakan,". Berbagai langkah untuk menerapkan kembali subsidi guna membantu rakyat miskin kemungkinan akan berdampak buruk, karena tindakan tersebut mengikis keuangan negara. "Pada saat ini, harga minyak meningkat di tengah lingkungan eksternal yang sedikit kurang menguntungkan bagi Asia. Para mitra dagang utama kawasan itu, terutama AS, sedang mengalami pelambatan," kata Park (Kompas 3.16)
Di negara berkembang,  ketergantungan terhadap bahan baku impor industri dalam negeri sangat tinggi. Kenaikan tingkat harga di negara asal bahan baku akan diteruskan ke perekonomian domestik yang pada gilirannya akan meningkatkan tingkat harga umum. Ekonom sering menyebutnya dengan import-cost push inflation. (Hera Susanti, Dkk. 1995). Lantas apa relevansinya harga minyak dunia yang enggan mau turun itu dengan harga yang dikenakan pemerintah kepada rakyatnnya yang juga turut memiliki sumber minyaknya.System ekonomi komuniskah yang dianut negri kita ini?  Tentu sama sekali bukan, karena ekonom kita berargumen jika harga semua barang terbentuk melalui mekanisme pasar. Secara teoritis bahwa harga timbul karena adanya transaksi antara supply side dan demand side. Begitu juga dengan minyak bumi (crude oil). Secara umum minyak bumi dibentuk oleh adanya interaksi atau transaksi dari sisi persediaan (supply) minyak bumi di dunia dan dari sisi permintaan (demand) para pengguna minyak bumi dunia. Misalnya, adanya intervensi pemerintah dari negara-negara penghasil minyak bumi yang berskala besar, baik negara OPEC maupun Non-OPEC. Instrumen subsidi atau tarif yang bisa dilakukan. Hal ini disebabkan bahwa minyak bumi sebagai salah satu sumber energi vital dunia, maka barangsiapa yang bisa menguasai pasar minyak bumi di dunia tentunya, maka akan bisa mempengaruhi pasar, termasuk mempengaruhi harga (Rizal Taufiqurrahman. 2008).Tepatnya, harga terdapat dan terjadi dalam titik pertemuan atau perpotongan antara kurva permintaan dan kurva penawaran, lantas apakah perpotongan itu harus dipertemukan di New York dan haruskah dibawa sampai kesana dan sepenuhnya terbentuk di pasar internasional?, sementara dalam negeri saja masih harus antri untuk mendapatkannya. Di New York dapat dikatakan lebih mirip dengan perfect competition (pasar persaingan sempurna) daripada bentuk pasar monopolistic competition, oligopoli, duopoli dan bentuk monopoli yang diberikan pemerintah kepada pertamina dengan menggunakan harga yang telah ditentukan. Ketentuan Harga tersebut tak seharusnya setinggi-tingginya, sehingga rakyat secara realita lebih banyak dibawah garis miskin kewalahan menggapainya. Karena pemerintah berkewajiban mengemban amanat social sebagaimana yang  termaktub dalam UUD 45 pasal 33.  Dapat dimaklumi memang, jika pemerintah menginginkan laba lebih besar yang dapat dipakai kembali untuk tujuan-tujuan mulia bagi kesejahteraan rakyat. Jaminan kesehatan dan pendidikan murahpun mulai dijanjikan, tapi benarkah memberi solusi atau cuma janji surga jika untuk mendapatkannya harus menutup penghasilan pengusaha kecil. Makin abstrak saja nilai kesehatan dan pendidikan bila dipadukan dengan angka kemiskinan dan kelaparan rakyat akibat naiknya harga kebutuhan bahan pokok.
Untuk menepis tingginya harga, pemerintah mengeluarkan senjata penyelamat untuk melindungi kebutuhan rakyat dengan apa yang disebut subsidi. Analogi yang beredar di masyarakat menyebutkan bahwa semua harga tinggi bila disubsidi akan menjadi lebih murah, hal itu dipengaruhi oleh kebaikan hati pemerintah memberikan sumbangan diskon yang diambilkan dari anggaran pendapatan dan belanja negara hingga berujung pada defisit anggaran. Dengan persepsi inilah pemerintah memberi pernyataan akan menarik subsidi dan  menaikkan harga, dana subsidi akan dialokasikan untuk keperluan yang lebih bermanfaat bagi rakyat, namun pada prakteknya balik lagi seperti kasus diatas. Dan seratus persen betulkah analogi abstrak ini, bila kita bandingkan angka subsidi dengan angka penambahan yang terjadi pada defisit anggaran ternyata selisihnya tak begitu jauh. Hal itu tentu saja terjadi karena subsidi tidak cuma diartikan dengan besarnya jumlah uang yang dikeluarkan untuk rakyat, tapi sebenarnya hanya kerugian hitung-hitungan diatas kertas  atau dalam akal pikiran semata. Begitulah kira-kira yang ada dibenak para pejabat mentri dan anggota dewan kita (Kwik Kian Gie 2005). Memang demikian esensinya, kalau dengan bahasa kerennya subsidi disebut opportunity loss atau hilangnya kesempatan memperoleh laba yang lebih besar. Tragisnya, subsidi yang menjadi dermaga terakhir rakyat kian menyusut bahkan nyaris hilang jumlahnya, berarti betapa semakin kayanya negeri ini berkat laba jualan di pasar dunia dan kepada rakyatnya sendiri.
Dilematis, minyak menyangkut menyangkut hajat hidup rakyat banyak yang tidak mudah ditentukan arahnya, terlebih migas produk Indonesia invisibel hand-nya tak sekedar mekanisme pasar saja. tapi kekuatan politik, kepentingan, dan ideologi penguasa yang menambah kelamnya harga emas hitam ini. Namun kesemua itu berpulang pada keberpihakan sepenuhnya sang penentu kebijakan kepada rakyat serta adanya upaya mencari energi alaternatif yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat banyak, tak hanya konversi gas yang sarat akan berbagai unsur kepentingan dan politik.

* Penulis adalah Mahasiswa tingkat VII jurusan Bisnis dan Manajemen Syariah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar