Jumat, 15 Januari 2010

Problem SDM Menjadi Isu Terhangat Perbankan Syariah 2010

Jakarta (14/1) Berapa jumlah sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan dan seperti apakah SDM untuk mendukung operasional perbankan syariah kedepan? Dua pertanyaan tersebut kini menjadi isu terhangat dan menjadi pembicaraan dalam pengembangan perbankan syariah di awal tahun 2010.




Muliaman D. Hadad (Ketua MES)

Trend kedepan, Indonesia menjadi pusat pengembangan perbankan syariah di Asia tenggara tak bisa dilepaskan begitu saja, kemudian hadirnya 6 Bank Umum Syariah (Bank Muamalat, BSM, BMS, BRISyariah, BSB dan Bank Panin Syariah ) serta Unit Usaha Syariah (UUS) dan BPRS perlu sebuah dukungan SDM yang berkualitas. Kesiapan dan persiapan seperti apakah yang harus dilakukan ditengah pertumbuhan perbankan syariah semakin tahun semakin meningkat itu.

Deputi Gubernur Bank Indonsia dan sekaligus Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Muliaman D Hadad di acara HR Syariah Summit 2010 di Jakarta, menekankan diperlukan integrasi antara para akademisi dan praktisi dalam mengembangkan SDM di lembaga keuangan syariah (LKS). Mereka tak bisa berjalan sendiri-sendiri, tanpa sebuah integrasi sangat mustahil LKS di Indonesia seperti bank syariah bisa maju dengan pesat.

”Itulah yang menjadikan kegelisahan kami dalam mengembangkan perbankan syariah, sehingga masalah kebutuhan SDM merupakan pilar pertama dalam blue print di pengembangan perbankan syariah di Indonesia,”paparnya.

Muliaman juga memaparkan saat ini—sudah banyak lembaga perguruan tinggi yang membuka kosentrasi jurusan ekonomi syariah bahkan di perguruan tinggi negeri dan Islam juga secara terbuka membuka program tersebut. Hal ini merupakan respon mereka terhadap pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Kemudian dalam pengembangan perbankan syariah di Indonesia Muliaman juga menyinggung masalah inovasi produk masih menjadi kendala selama ini, hal ini menurutnya tak lepas dari rendahnya SDM di perbankan syariah sehingga mengakibatkan kreatifitas produk yang selama bisa diharapkan masih belum maksimal.

”Inilah yang harus segera di jawab,”paparnya.

Menciptakan SDI yang siap bekerja dengan visi hingga kemampuan teknis operasioanal syariah bukan perkara mudah. Sebuah riset menunjukkan kendala utama pengembangan ekonomi syariah adalah SDI yang lemah baik dari sisi jumlah maupun kualitasnya. Artinya SDI yang memiliki kompetensi seperti yang diharapkan masih jauh panggang dari api. Akibatnya ekonomi syariah cenderung lemah dalam bidang marketing, sasaran strategi, efisiensi operasi dan implementasi good corporate governance.

Masalah lainnya adalah pengembangan kelembagaan, pengembangan produk dan pasar, kerangka hukum dan peraturan serta pengawasan atas prinsip-prinsip syariah. Namun kalau mau dilihat secara mendalam kendala-kendala tersebut di atas bisa diatasi kalau kita memiliki SDI yang memadai untuk memecahkannya.

Mengapa? SDI adalah sentra perubahan. SDI adalah sentra kemajuan. Tanpa SDI syariah yang mumpuni, pertumbuhan ekonomi syariah sulit berkembang bahkan bisa kembali tergerus.

Pemikiran-pemikiran untuk memajukan perbankan syariah di Indonesia secara demikian selalu dikatakan oleh anggota Dewan Syariah Nasional (DSN) Muhammad Gunawan Yasni. Selain masalah SDM permasalahan kebijakan dari pemerintah sering kali menjadi orientasi pengembangan perbankan syariah tak jelas arah dan tujuannya.

”Sepuluh tahun lebih bank syariah berjalan tapi konsepsi secara terintegrasi dari pemerintah masih lamban, apalagi dalam pengembangan pendidikan hingga sekarang belum ada titik kejelassannya,”kata Gunawan Yasni.

Meski demikian dalam menghadapi era pasar bebas yang sudah masuk dalam kebijakan pemerintah, Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Achmad Riawan Amin, menegaskan bahwa visi SDM syariah kedepan harus jelas dan nilai-nilai dasar yang bersumber dari ajaran Islam harus menjadi prinsip bagi para SDM yang berkerja di LKS.

”Jangan sampai SDI Syariah yang ada selama ini tak jelas visi dan karakternya sehingga sulit dibedakan mana syariah dan mana konvensional,” tutur Riawan Amin. (Agus Y www.pkesinteraktif.com)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar