Senin, 04 Januari 2010

Solusi Islam Atasi Krisis Keuangan Global

Oleh : Abdussalam*

A. Latar Belakang
Mengingat sejarah masa silam, meninjau kajian empiris dari berbagai sumber para ekonom dunia, diantaranya Roy Davies dan Glyn Davies, 1996 dalam bukunya, The History of Money From Ancient time to Present Day, diuraikan sejarah kronologi secara komprehensif tentang runtutan terjadinya krisis keuangan di negara-negara dunia. Menurut mereka, sepanjang abad 20 telah terjadi lebih 20 kali krisis besar yang melanda banyak negara. Fakta ini menunjukkan, secara rata-rata, setiap 5 tahun terjadi krisis keuangan hebat yang mengakibatkan penderitaan bagi ratusan juta umat manusia.

Kali ini, krisis itu datang lagi. Berawal dari masalah kredit macet perumahan Subprime Mortage. Masalah itu terjadi beribu-ribu kilo jaraknya dari Indonesia, di Amerika. Tapi dampaknya mendunia. Salah satunya krisis nilai tukar yang berpotensi berkembang menjadi krisis mata uang terbesar yang pernah ada (istilah Krugman, the mother of all currency crisis). Berawal dari sinilah, penulis tertarik untuk membahas lebih dalam seluk beluk masalah serta solusi mengatasi kemelut krisis keuangan global ini dalam perspektif Ekonomi Islam. Semoga bermanfaat!

Akar Krisis: An Islamic Perspective
Mengamati peristiwa demi peristiwa, krisis demi krisis yang menimpa suatu negara, khususnya di AS, Ekonomi Islam memandang, bahwa akar penyebab terjadinya krisis tersebut, sebenarnya bermuara dari satu ‘Sistem Dajjal’, yaitu sistem ekonomi kapitalisme yang berbasis ribawi itu sendiri. Sebab, dalam sistem ini  telah terjadi decoupling (pemisahan) antara sektor moneter dan sektor riil. Menurut Agustianto (2007), volume transaksi yang terjadi di pasar uang (currency speculation and derivative market) dunia berjumlah US$ 1,5 triliun hanya dalam sehari. Bandingkan dengan volume transaksi pada perdagangan dunia di sektor riil hanya US$ 6 trilion setiap tahunnya (Rasio 500: 6). Jadi sektor riil hanya sekitar 1 % disbanding dengan sector moneter. Celakanya, hanya 45 persen dari transaksi di pasar, yang menggunakan transaksi spot (langsung), selebihnya adalah forward, futures,dan options.
Islam sangat mencela transaksi derivatif ribawi dan menghalalkan transaksi riil. Hal ini dengan tegas difirmankan Allah dalam Surah Al-Baqarah : 275 : “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.  Sebagaimana disebut di atas, perkembangan dan pertumbuhan finansial di dunia saat ini, sangat tidak seimbang dengan pertumbuhan sektor riil. Realitas ketidakseimbangan arus moneter dan arus barang/jasa tersebut, mencemaskan dan mengancam ekonomi berbagai negara.
Ala kulli haal, krisis Keuangan Global saat ini, dalam pandangan Ekonomi Islam berakar dari beberapa hal sebagai berikut:
1.      Penggunaan sistem yang ribawi yang rentan terjadi praktik MAGHRIB (Maysir, Gharar, dan Riba). Di mana karakter dalam sistem ini, tidak mengaitkan sama sekali antara sektor keuangan dengan sektor riil. Sektor keuangan berkembang cepat melepaskan dan meninggalkan jauh sektor riil. Sehingga terjadi kepincangan sektor moneter dan sektor riil.
2.      Penggunaan mata uang fiat money sebagai standar keuangan internasional
3.      Ba’i ad-dayn bi ad-dayn (jual beli hutang dengan hutang) yang marak dilakukan dalam obligasi
4.      Moral hazard dari pelaku ekonomi yang tamak, yang mengejar keuntungan (profit taking) melalui praktik magrib (maysir/spekulasi, Gharar, dan riba).
Dus, dengan akar permasalahan yang diungkapkan oleh para ekonom dari kacamata yang berbeda di atas, kita dapat menarik benang merah, bahwa permasalahan utama dari ini semua berawal dari sistem yang gagal yang masih meninabobokan pandangan kita dengan daya magis dan manisnya: Kapitalisme, sehingga membuat para pelaku ekonom terkunci untuk membuat sebuah perubahan terhadap sistem yang ada kepada sistem yang jauh akan membawa kesejahteran bagi seluruh pelakunya.

Solusi Mengatasi Krisis Keuangan Global
Perlu ada solusi yang tepat untuk mengatasi gejolak krisis keuangan global yang banyak melanda negara-negara berkembang pada umumnya. Menurur Umar Chapra (2002), untuk mengobati sebuah penyakit maka harus melihat dari akar atau penyebab dari penyakit itu. Selaras dengan akar penyebab terjadinya krisis itu, layaknya sebuah obat, maka harus tahu terlebih dahulu bentuk penyakit yang diderita pasien, barulah kita mencarikan obat yang tepat untuknya. Dijelaskan di muka setidaknya ada empat bakteri penyebab terjadinya krisis keuangan global tersebut, yang perlu diatasi dengan empat obat, yaitu:
1.        Kembali pada sistem ekonomi ilahi (Islamic Economics). Kita sepakat, bahwa Tuhan Maha Mengetahui apa yang terbaik dan maslahah bagi umat manusia. Karenanya, dalam ekonomi Islam, Allah swt telah mengatur sedemikian rupa, agar  perekonomian senantiasa berbasis sektor riil. Itulah mengapa, akad-akad yang digunakan dalam transaksi bisnis dalam Islam banyak mengarah pada sektor riil. Mudharabah, Murabahah, Salam, Ishtisna’, Ijarah, dan lain sebagainya, adalah merupakan implikasi dari pengoptimalan sektor riil.
2.        Penggunaan mata uang Emas dan Perak, sebagai standar keuangan international. Jenis mata uang ini (baca: Dinar – Dirham) sejak masa Nabi Muhammad saw (14 abad yang silam) terbukti stabil dan tak terpengaruh oleh inflasi yang begitu berarti. 1 Dinar pada masa Nabi bisa dibuat membeli seekor kambing, begitu pun hingga saat ini.
3.        Penggantian instrumen obligasi konvensional yang marak dengan maysir (judi), dengan instrumen sukuk (obligasi syariah). Dengan instumen sukuk ini, sektor riil akan bergerak dan dapat tumbuh lantaran ditopang dengan dana dari sukuk tersebut.
4.        Membersihkan semua macam transaksi bisnis riil dari hal-hal yang berbau Magrib (maysir, gharar, dan riba). Termasuk pula melarang terjadinya praktik ihtikar (penimbunan), ba’i najasy (rekayasa permintaan), dan talaqqi rukban (rekayasa penawaran).

Epilog
Akar krisis keuangan global yang terjadi saat ini adalah praktik riba, maysir, dan gharar yang menjadi fenomena kapitalisme baik di pasar uang maupun pasar modal. Ekonomi kapitalisme yang tidak memisahkan sektor moneter dan riil berakibat pada penciptaan bubble economy yang sangat rawan menimbulkan krisis. Sedangkan ekonomi syariah tidak memisahkan sektor moneter dan sektor riil.
Diserukan kepada para pemimpin dan masyarakat, juga para pakar ekonomi dan praktisi ekonomi keuangan dunia, untuk tidak meneruskan kegiatan ekonomi spekulasi, gharar dan riba  baik di money market maupun capital market, Jika praktik itu masih terus dijalankan, maka krisis demi krisis pasti akan terjadi secara terus menerus. Semoga dengan banyak dukungan dari segala tingkatan, diharapkan Indonesia kelak dapat mengembalikan Negeri kita yang dulu subur makmur, gemah ripah loh jinawi. Serta menjadi sebuah negeri yang digambarkan Al-Quran: Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur. Amin.. Semoga!
*Penulis merupakan alumnus STEI Tazkia, santri Ponpes Sidogiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar