Jumat, 26 Februari 2010

Kajian Jilid II Progres 2010

Ada saja hal-hal menarik yang dibahas di kajian mingguan Progres. Minggu kemarin baru saja kita membahas tema yang cukup menarik tentang sejarah Amerika dalam memonopoli keuangan dunia yang diawali dengan Bretton Woods, dan kali ini bahasannya adalah tentang tepung terigu. Loh, memang apa hubungannya tepung terigu dengan perekonomian di Indonesia?

Jawabannya ada di kajian progres tanggal 25 Februari 2010 pukul 16:32. Materi ini disampaikan oleh Dr. Muhammad Findi A., M.E., salah satu dosen dari FEM IPB dan STEI TAZKIA Bogor.

Dosen yang cukup low profile ini mencoba menyampaikan pesan bahwa tepung terigu merupakan komoditas yang merupakan salah satu substitusi pangan pokok kita secara tidak langsung karena melalui proses olehannya tepung terigu dapat menjadi mie, roti, dan pangan yang lainnya.

Namun, bahan baku tepung terigu tersebut tidak bisa ditanam secara mandiri di Indonesia karena Indonesia mempunyai iklim yang subtropis, sehingga masih sulit untuk mandiri pangan dalam produksi tepung terigu karena produksinya masih bergantung kepada impor gandum dari Negara Amerika, Arab, Australia, Turki dan China.

Karena tepung terigu merupakan komoditas yang dibutuhkan oleh orang banyak, pemerintah berusaha untuk mem-protect tepung terigu dari kenaikan harga dan monopoli. Namun, sekarang ini ada salah satu perusahaan tepung terigu yang hampir mendominasi penjualan tepung terigu di Indonesia, hal ini dibuktikan dengan market share nya yang melebihi 50%, yaitu mencapai 65,11%. Sedangkan menurut KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), perusahaan yang memiliki market share melebihi 50% mengalami indikasi monopoli.

Celakanya, untuk menegur perusahaan ini, pemerintah merasa segan, Karena perusahaan tersebut lumayan besar kiprahnya dalam mengembangkan usaha-usaha kecil , berpengaruh 4,5 % dari GDP dan menyumbang pajak hampir 50 milyar per tahun.
Pemerintah segan untuk ‘menyakiti’ perusahaan tersebut karena dikhawatirkan jika perusahaan tersebut mendapat teguran, maka mereka akan hengkang dari industry per tepung terigu an di Indonesia dan menyebabkan kerugian dan mati suri industri-industri kecil yang menggunakan tepung terigu sebagai bahan pokok usaha mereka. Sebenarnya ada perusahaan tepung terigu selain perusahaan tersebut, namun bargaining power nya tidak sebesar perusahaan tepung terigu terbesar di Indonesia itu.

Untuk mencegah kenaikan harga tepung terigu ini, pemerintah mencanangkan beberapa hal, yaitu menghapus bea masuk impor tepung terigu, melanjutkan kebijakan PPN tepung terigu dan gandum yang ditanggung pemerintah, menunda sementara pemberlakuan SNI (Standar Nasional Indonesia) bagi tepung terigu sambil terus melakukan penyempurnaan, memfasilitasi UKM yang berbahan baku tepung terigu dalam konversi minyak tanah ke elpiji, mendorong diversifikasi pangan, terutama tepung berbahan baku umbi-umbian lokal.

Upaya memberlakukan SNI ini sangat didukung oleh perusahaan Bogasari tersebut dengan alasan untuk keamanan dan kenyamanan konsumen. Namun, KPPU kembali angkat bicara mengenai hal ini. Menurut mereka, kebijakan memberlakukan SNI ini akan menyebabkan adanya barrier to entry (hambatan masuk) produsen tepung terigu lainnya sehingga akan memungkinkan perusahaan tersebut untuk tetap condong ke arah monopoli.
Hal ini merupakan hal yang dilematis bagi pemerintah, di satu sisi ingin mempertahankan Bogasari yang jika hengkang akan memberikan pengaruh negatif terhadap perekonomian. Di sisi lain, pemerintah juga harus mencegah terjadinya monopoli yang menyebabkan harga tepung terigu itu naik.

Pak Findi menantang para mahasiswa untuk mencari cara agar gandum dapat ditanam di Indonesia, sehingga Indonesia dapat mandiri memproduksi tepung terigu. Beliau juga sangat appreciate terhadap ksei progres dan kegiatan-kegiatannya. Menurut beliau, organisasi Progres ini adalah sebagai bentuk dari latihan dan apresiasi para mahasiswa terhadap ekonomi syariah. Dan beliau juga menghimbau untuk patuh kepada ulil amri (pemerintah) setelah kepada Allah dan rasul-Nya, selama kebijakan pemerintah tersebut mashlahat untuk masyarakat.

Kajian pada hari itu ditutup dengan pemberian kenang-kenangan Progres kepada Pak Findi dan doa bersama untuk para mahasiswa yang mewakili kampus STEI TAZKIA untuk mengikuti sebuah ajang bergengsi ,TEMILNAS (Temu Ilmiah Nasional) 2010 di Medan. Ma’an Najah. Allaahu Ma’akum. : )

Oleh : Divisi Pers n Publikasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar