Minggu, 21 Februari 2010

Kajian Perdana Progres 2010



Pernahkah dunia kita mengalami kestabilan massal? Jawabannya adalah pernah. Dengan kejadian krisis d imana-mana sekarang ini bukan berarti dunia kita belum pernah mengalami masa-masa keemasan di saat perekonomian begitu stabil. Masa indah itu bernama Bretton Woods.
Materi ini disampaikan oleh Putra Satria sebagai Wakil Ketua Progres Masa Amanah 2009-2010 dan merupakan kajian perdana tahun 2010.
 Bermula dari Great Depression pada tahun 1930 yang terjadi setelah Perang Dunia 1,  perekonomian dunia jadi tak menentu. Ketidakpercayaan antar negara yang muncul pasca PD 1 menyebabkan seluruh negara bagian di dunia menciptakan kebijakan moneter  yang menguntungkan bagi negaranya saja tanpa melihat dampak negatif yang akan diterima oleh negara lain. Penyebab yang lainnya adalah Laissez Faire Laissez Fasser dimana sistem tersebut mengharamkan adanya intervensi sedikitpun dari pemerintah.
Terjadinya Great Depression 1930 tak lepas dari kebijakan moneter dunia yang tak menentu dan menggunakan sistem Laissez Faire Laissez Fasser yang mengharamkan sedikit pun peran pemerintah ( J.M Keynes, Deliarnov )
Guna memperbaiki kekacauan ekonomi tersebut, pada tahun 1944, dua ekonom dunia, yaitu Harry Dexter White sebagai Ahli Ekonomi Departemen Keuangan AS dan Ahli Ekonomi Inggris,  John Maynard Keynes, memprakarsai sebuah sistem moneter yang dapat menjadi solusi untuk perekonomian saat itu di desa Bretton Woods, New Hampshire, AS.  Bersama dengan 730 delegasi dari 44 negara, lahirlah sebuah sistem moneter yang sehat yaitu Bretton Woods di mana sistem moneter yang digunakan adalah fixed exchange rate yang memback up uang yang beredar dengan emas yang tersedia dan tentu saja membutuhkan intervensi pemerintah. Terbukti dengan adanya Bretton Woods ini, tahun 1945 – 1971 disebut abad emas di mana kesejahteraan meningkat, perdagangan naik, stabilitas harga terjaga dan investasi naik hingga 500%.
Pasca PD II, Amerika Serikat menjadi negara yang paling aman dan paling stabil perekonomiannya, karena AS lah yang memprakarsai terjadinya PD II dan memenangkannya. Pada saat itu, AS tercatat memiliki 65% cadangan emas dunia ( emas jadi dan bukan emas yang masih belum di olah ), sehingga dollar AS menjadi acuan dunia. AS pun berjanji akan memegang amanah sebagai mata uang acuan tersebut. Namun kepercayaan itu rusak tatkala AS menyalahi amanahnya dengan memperbanyak uang melebihi emas yang tersedia untuk membiayai perangnya melawan Vietnam. Dengan kejadian tersebut, akibatnya, sistem keuangan dunia kembali tidak stabil, inilah yang dinamakan floating exchange rate (uang yang beredar tidak sesuai jumlahnya dengan emas yang tersedia).
Dengan kejadian tersebut, AS tidak lagi dipercayai oleh negara-negara sekutunya, dan AS pun membatalkan perjanjian Bretton Woods secara sepihak. Dari sinilah dimulainya babak baru dalam sistem moneter international, yaitu beralih ke floating exchange rate.
Dan sistem kurs uang mengambang ini ditengarai menjadi penyebab utama terjadinya berbagai macam kasus krisis yang melanda dunia termasuk di Indonesia. Dan tidak di pungkiri lagi, banyak ekonom-ekonom dunia saat ini yang merindukan akan kembali hadirnya Bretton Woods System dengan fixed exchange rate-nya, dan kembali menulis tinta emas perekonomian dunia layaknya tahun-tahun indah dahulu.

Oleh Divisi Pers n Publikasi Progres Masa Amanah 2009-2010




Tidak ada komentar:

Posting Komentar