Selasa, 13 April 2010

Bank Syariah Dikhawatirkan Mengalami Krisis SDM

Jakarta, (12/4). Setelah BCA Syariah beroperasi di awal bulan April kemarin tantangan terbaru yang dialami oleh industri perbankan syariah adalah Sumber daya manusia (SDM), tuntutan SDM tersebut di tahun ini akan semakin meningkat ketika lembaga pendidikan yang ada ditanah air masih sedikit yang menyediakan tenaga SDM perbankan syariah. Sementara perbankan syariah akan terus bermunculan seperti BNI Syariah dan Bank Jabar Banten Syariah. Diprediksikan ditahun 2010  dibutuhkan SDM berjumlah 4000-5000.

Krisis SDM perbankan syariah inilah yang mengakibatkan para bankir syariah khawatir, apalagi praktek “bajak membajak” antar SDM bank syariah menjadi pemandangan setiap saat.  Direktur Utama Bank Muamalat, Arviyan Arivin mengungkapkan, kehadiran banyak bank syariah tak menjadikan dia risau justru sebaliknya masyarakat dihadapkan banyak pilihan. Tapi dengan adanya banyak pemain logikanya tambah pula jumlah sumber daya. “Maka diperlukan SDM andal dan qualified. Nach SDM yang demikian itu yang kurang inilah masalah yang terjadi di industri perbankan syariah,”paparnya.

Sementara pengamat ekonomi dari Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), Agustianto mengatakan, bahwa diperlukan regulasi yang cepat dari Bank Indonesia (BI) atau Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) terkait dengan praktek bajak membajak. Diakui oleh Sekjen IAEI tersebut, bahwa sebuah dilema bear dalam pengembangan perbankan syariah tak diimbangi dengan ketersediaan SDM yang ada selama ini dan bisa menjadikan kemunduran bagi pengembangan industri perbankan syariah.

Untuk menjawab kendala tersebut, Agustianto, menegaskan diperlukan banyak lembaga-lembaga pendidikan yang melakukan training-training operasional perbankan syariah mulai front office hingga manager.  “Ini yang segera dilakukan oleh lembaga pendidikan,”paparnya.

Sebelumnya Agustianto juga mengkritik sikap pemerintah yang kurang cepat dalam hal pengembangan SDM ekonomi syariah dan masih lembar bola antara Diknas dan Depag dengan demikian hingga sekarang nasib pengambangan pendidikan ekonomi syariah menggantung. (Agus Y www.pkesinteraktif.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar