Sabtu, 10 April 2010

Buletin Progres Edisi 48


DEMAND THEORY ON CAPITALISM AND ISLAMIC SIGHT
Oleh : Ahmad Nashruddin*
Pembahasan ekonomi mikro didasarkan pada perilaku individu-individu yang secara nyata terjadi di setiap unit ekonomi. Tidak adanya batasan syariah yang digunakan, maka perilaku dari setiap individu dalam unit ekonomi tersebut akan bertindak dan berperilaku sesuai dengan norma dan aturan menurut persepsi mereka masing-masing. Sedangkan dalam teori ekonomi mikro Islami, faktor moral dan norma yang terangkum dalam tatanan syariah akan ikut menjadi variabel penting yang perlu dijadikan sebagai alat analisis.
Salah satu cara terbaik untuk memahami relevansi ilmu mikro ekonomi baik itu konvensional maupun Islami adalah memulai dengan mempelajari konsep permintaan. “Permintaan dan penawaran adalah dua kata yang paling sering digunakan oleh para ekonom, keduanya merupakan kekuatan-kekuatan yang membuat perekonomian pasar bekerja. Jika Anda ingin mengetahui bagaimana kebijakan atau peristiwa akan mempengaruhi perekonomian, terlebih dahulu Anda harus memikirkan pengaruh keduanya terhadap permintaan dan penawaran.” (Mankiw, 2004)
Teori Permintaan Konvensional = Islami ?
Kita mengenal adanya teori permintaan konvensional dan Islami. Permintaan dalam konvensional diartikan sebagai keinginan konsumen membeli suatu barang pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu (Rahardja dan Manurung, 2008). Sedangkan menurut Ibnu Taimiyyah, permintaan suatu barang adalah hasrat terhadap sesuatu, yang digambarkan dengan istilah raghbah fil al-syai. Diartikan juga sebagai jumlah barang yang diminta (Karim, 2007).
Secara garis besar, faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan baik konvensional maupun Islami memiliki kesamaan. Karena keduanya berdasarkan perilaku per unit ekonomi yang sesuai dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan konvensional maupun Islam diantaranya adalah harga barang itu sendiri dan barang lain yang terkait, tingkat pendapatan per kapita, selera atau kebiasaan masyarakat, jumlah penduduk, distribusi pendapatan, usaha-usaha produsen meningkatkan penjualan, dan ekspektasi atau  perkiraan mendatang.
Harga barang itu sendiri dan barang terkait memiliki hubungan erat dengan jumlah permintaan, di mana telah dirumuskan dalam hukum permintaan (Law of Demand) : ”Dengan menganggap hal lain tetap, ketika harga suatu barang meningkat, maka kuantitas barang yang diminta akan menurun.” Ketika harga barang itu sendiri naik, maka jumlah permintaan akan cenderung menurun. Sedangkan barang terkait yang dimaksud adalah barang-barang yang memiliki sifat subtitusi (pengganti) maupun komplementer (pelengkap). Kedua sifat barang ini mempengaruhi tingkat harga barang yang lain. Di mana saat barang substitusi turun, maka harga barang yang lain pun akan menurun. Dan ketika barang komplementer turun, maka harga barang yang lain akan naik.
Untuk menunjukkan bagaimana kedua teori ini memiliki kesamaan dalam faktor-faktornya, akan dibandingkan antara faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan Islami menurut Ibnu Taimiyyah dalam kitab Majmu’ Fatawanya dengan faktor-faktor menurut konvensional, diantaranya adalah :
1.       Keinginan atau selera masyarakat (Raghbah) terhadap berbagai jenis barang yang berbeda dan selalu berubah-ubah. Faktor ini dapat kita temukan dalam teori konvensional pada faktor selera masyarakat. Di mana ketika masyarakat telah memiliki selera terhadap suatu barang maka hal ini akan mempengaruhi jumlah permintaan terhadap barang tersebut.
2.       Jumlah para peminat (Tullab) terhadap suatu barang. Jika jumlah masyarakat yang menginginkan suatu barang semakin banyak, maka harga barang tersebut akan semakin meningkat. Dalam hal ini dapat disamakan dengan jumlah penduduk, di mana semakin banyak jumlah penduduk maka semakin banyak jumlah para peminat terhadap suatu barang.
3.       Kualitas pembeli (Al-Mu’awid). Di mana tingkat pendapatan merupakan salah satu ciri kualitas pembeli yang baik. Semakin besar tingkat pendapatan masyarakat, maka kualitas masyarakat untuk membeli suatu barang akan naik.

Teori Permintaan Konvensional ≠  Permintaan Islami ?

Dari sisi definisi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik teori permintaan konvensional maupun Islami memiliki kesamaan yang wajar. Karena kedua hal tersebut merupakan hasil dari empiris atau kejadian nyata dari individual per unit ekonomi. Namun perlu kita perhatikan pula bahwa terdapat perbedaan yang mendasar di antara keduanya,  diantaranya :
1. Perbedaan utama antara kedua teori tersebut tentunya adalah mengenai sumber hukum dan adanya batasan syariah dalam teori permintaan Islami. Permintaan Islam, merujuk pada entitas utamanya yaitu Islam sebagai konsep hidup dan kehidupan yang merupakan konsep yang langsung diidekan (ideational) oleh Allah SWT. permintaan Islam secara jelas mengakui bahwa sumber ilmu tidak hanya berasal dari pengalaman berupa data-data yang kemudian mengkristal menjadi teori-teori, tapi juga berasal dari firman-firman Tuhan (revelation), yang menggambarkan bahwa ekonomi Islam didominasi oleh variabel keyakinan religi dalam mekanisme sistemnya.
Sementara itu dalam ekonomi konvensional hampir dipastikan tidak memiliki perspektif filosofi seperti yang dimiliki Islam. Filosofi dasar ekonomi konvensional terfokus pada tujuan materialme yang memang menjadi parameter terpenting dalam segala aktivitasnya. Hal ini wajar saja karena sumber inspirasi ekonomi konvensional adalah intelegensia akal manusia, yang tergambar pada daya kreatifitas, daya olah informasi dan imajinasi manusia. Padahal akal manusia merupakan ciptaan Tuhan, dan memiliki keterbatasan bila dibandingkan dengan kemampuan Tuhan yang tidak ada batasnya. Islam pun mengatur seluruh aktivitas manusia dari a hingga z. Sampai-sampai kepada urusan ke kamar mandi pun Islam mengatur bagaimana baiknya.
2. Konsep permintaan dalam Islam menilai suatu komoditi tidak semuanya bisa untuk dikonsumsi maupun digunakan, dibedakan antara yang halal maupun yang haram. Allah telah berfirman dalam Surat Al-Maidah :
87. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. 88. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Oleh karenanya dalam teori permintaan Islami, kurvanya ada tiga macam, yaitu kurva permintaan antara dua barang halal, antara barang halal dan haram, dan barang haram. Sedangkan dalam permintaan konvensional, semua komoditi dinilai sama, bisa dikonsumsi atau digunakan. Padahal perlu kita ketahui, seluruh komoditi yang dinilai halal adalah baik dan boleh untuk dikonsumsi maupun digunakan. Sedangkan barang haram adalah barang yang tidak baik dan tidak boleh untuk dikonsumsi atau digunakan.
3. Dalam motif permintaan Islam menekankan pada tingkat kebutuhan konsumen terhadap barang tersebut sedangkan motif permintaan konvensional lebih didominasi oleh nilai-nilai egoisme, self interest dan rasionalisme yang materialis. Konvensional menilai bahwa egoisme merupakan nilai yang konsisten dalam mempengaruhi seluruh aktivitas manusia. 
4. Permintaan Islam bertujuan mendapatkan kesejahteraan atau  kemenangan akhirat (falah) sebagai turunan dari keyakinan bahwa ada kehidupan yang abadi setelah kematian yaitu kehidupan akhirat, sedangkan permintaan konvensional tidak menyentuh nilai-nilai religiusitas, hanya pada dasar pemenuhan kepuasan atau utilitas. Konvensional terbatas pada nilai keduniaan, itu makanya parameter dan tujuan aktivitas berekonominya cenderung materialistis.
Kesimpulannya : Permintaan Konvensional ≠ Permintaan Islam J
Perbedaan yang menjadi asumsi dasar konsep permintaan baik konvensional maupun Islami memiliki keterkaitan langsung terhadap implementasi konsep permintaan tersebut. Dengan ini, maka dapat dijelaskan bahwa antara konsep permintaan konvensional dan Islami tidak memiliki hubungan yang erat meskipun adanya persamaan di antara keduanya, tetapi kedua persamaan tersebut hanya merupakan asumsi awal konsep permintaan. Bukan asumsi dasar layaknya tiga perbedaan yang telah dijelaskan di atas. Dapat disimpulkan, perbedaan yang perlu diperhatikan di antara keduanya adalah sumber hukum dan adanya batasan syariah, sudut pandang barangnya, motif dari permintaan dan tujuannya.
Dengan hipotesa tidak adanya hubungan yang erat antara permintaan Islami dan konvensional, maka kita sebagai konsumen harus memilih di antara keduanya karena adanya keterbalikan teori di antara keduanya. Oleh karenanya penulis menyimpulkan agar permintaan Islami ini benar-benar dapat diimplementasikan oleh setiap masyarakat muslim di Indonesia guna mencapai kehidupan yang lebih baik lagi dan menyarankan kepada pemerintah sebagai regulator untuk menciptakan banyak regulasi yang mendukung adanya konsep Islami agar tercipta pemberdayaan masyarakat Islami yang lebih baik.

* Mahasiswa STEI TAZKIA Jurusan Ilmu Ekonomi Islam Semester 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar