Kamis, 01 April 2010

ISLAMIC BANKING UNTUK REVITALISASI SEKTOR RIIL LEBIH BAIK


Oleh : Abdul Aziz Yahya Syauqi*
Syariah diturunkan oleh Allah melalui para rasul-Nya untuk membawa kebaikan bagi seluruh alam .  Allah berfirman : “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (QS : Al-Anbiya : 107)
As-Syathibi dalam magnum opusnya Al-Muwaffaqat, menyatakan bahwa tujuan dari eksistensi syariah (maqashid syariah) dapat disimpulkan dalam dua hal: mendatangkan maslahat dan menolak mudharat. Kedua hal ini selanjutnya diderivikasikan dalam lima aspek mendasar yang dipelihara oleh syariah, yaitu pemeliharaan agama, jiwa, harta, akal dan keturunan. Ada sebagian ulama yang menambahkan aspek keenam, yaitu hifzh al-i’rdh ( pemeliharaan kehormatan ). Seiring dengan perkembangan dan perubahan peradaban, ada pula dari kalangan ulam kontemporer yang menambahkan aspek pemeliharaan lingkungan hidup (hifzh al-bi’ah). Inilah gambaran umum ( big picture) kemaslahatan sekaligus kebenaran transendental-universal yang diusung oleh syariah.
Ibnu Al-Qayyim berkata : “sesungguhnya bangunan dan pondasi syariah dibangun di atas hikmah dan kemaslahatan para hamba, baik di dunia maupun di akhirat. Seluruh syariah adalah keadilan, rahmat, maslahat dan hikmah. Dengan demikian, setiap perkara yang keluar dari keadilan kepada kedzaliman, dari maslahat kepada kerusakan, dari hikmah kepada kesia-siaan, dari rahmat kepada antipodenya, maka ia bukan termasuk syariah, meskipun ia dimasukan oleh sebagian orang ke dalam syariah dengan metode takwil (yang keliru)”
Salah satu maslahat terpenting yang menjadi tujuan syariah adalah kesejahteraan sosial. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tema ini. Tidak kurang dari 69 ayat Al-Qur’an yang secara literal mengandung kata ‘miskin’ berikut derivasinya seperti faqir, ba’s, sail, qani,, mu’tar, dhaif, dan lain-lain. Jumlah ayat akan jauh lebih besar apabila ayat-ayat yang secara kontekstual membahas tentang kemiskinan namun tidak mengandung kata-kata miskin dan turunannya diperhitungkan. Selaian itu, terdapat tidak kurang 42 ayat yang secara eksplisit membahas tentang zakat. Jumlah yat tersebut di atas jauh lebih banyak dibandingkan ayat yang berbicara tentang larangan riba (7 ayat) dan maisir atau perjudian (3 ayat). (Lihat: al-Mu`jam al-Mufahras li Alfāzh al-Qur’ān al-Karīm, karya Muhammad Fuād `Abd al-Bāqi dan Fiqh al-Zakāh, karya Prof. Dr. Yūsuf al-Qaradhāwi.)
Dan oleh karena itu ekonomi islam lahir sebagai solusi atas permasalahan bangsa ini terutama dalam permasalahan kesenjangan sosial yang saat ini merupakan menu utama yang sering diperbicangkan dalam media cetak maupun elektronik. Salah satu solusi yang ditawarkan ekonomi islam adalah dengan merevitalisasi kembali kegiatan perekonomian sektor riil agar kesenjangan sosial yang semakin marak terjadi pada bangsa kita semakin berkurang secara bertahap tetapi pasti. Dengan salah satu instrumen keuagannya yaitu industri perbankan syariah, ekonomi islam yang terkandung di dalamya misi-misi syariah, sangat mendorong kegiatan perekonomian di bidang sektor riil.
Semangat menciptakan kesejahteraan sosial direpresentasikan oleh instrumen keuangan ekonomi islam ini ( industri perbankan syariah ) setidaknya dalam dua hal yaitu : tingkat FDR/LDR (Financing/Loan to Deposit Ratio) yang tinggi dan keberpihakan kepada sektor usaha mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). FDR/LDR adalah rasio yang menjelaskan tentang seberapa tinggi bank syariah/konvensional mampu menyalurkan dana yang telah dihimpunnya dari masyarakat ke sektor riil (Financial intermediary).FDR/LDR yang semakin tinggi menyebabkan sektor perekonomian berjalan semakin baik dan pada akhirnya tingkat kesejahteraan akan semakin meningkat.
FDR/LDR bank syariah dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bank konvensional. Pada tahun 2008, FDR/LDR bank syariah adalah sebesar 103,34% dibandingkan bank konvensional sebesar 74,58%. Per Agustus 2009, FDR/LDR bank syariah mengalami penurunan, yaitu sebesar 99,71%, namun masih tetap lebih tinggi dibandingkan bank konvensional sebesar 73,95%, yang juga mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. (Sumber: Situs resmi Bank Indonesia: http://www.bi.go.id.)
Dengan demikian, bank syariah menghindari hal-hal yang bersifat spekulatif (gharar) yang menyebabkan buble economy, sehingga memiliki kecenderungan yang lebih untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor riil. Hal ini berkonstribusi positif pada peningkatan Groos Domestic Product (GDP) dan kesejahteraan sosial.
Hal lain yang diusung oleh bank syariah dalam upaya peningkatan kesejahteraan sosial adalah concern terhadap sektor UMKM yang merupakan bottom of the pyramid dalam sektor perekonomian di indonesia. Ketangguhan sektor UMKM dalam menghadapi segala perubahan kondisi ekonomi sudah terbukti, hal ini dapat kita lihat ketika dunia mengalami goncangan perekonomian yang diakibatkan krisis keuangan global pada akhir tahun 2008 yang diprakarsai oleh jatuhnya perusaahan terbesar di Amerika Lehman Brothers dan General Motor karena kredit macet, pada saat itu perekonomian indonesia masih tetap bertahan karena ketangguhan sektor UMKM.
UMKM memiliki kontribusi yang sangat signifikan terhadap GDP nasional. Pada tahun 2007 dari total GDP nasional yang mencapai angka Rp. 3.957,4 triliun, UMKM menyumbangkan sebesar Rp. 2.121,3 Triliun. Angka ini naik dari total PDB yang sudah disumbangkan UMKM pada tahun 2006 sebesar Rp. 1.786,2 triliun.
Peran sektor UMKM dalam menyerap tenaga kerja juga sangat signifikan. Selam 2004, sektor ini mampu menyerap hampir 97% tenaga kerja yang tersedia. Dan pada tahun 2009 pertumbuhan UMKM mencapai 10%. Ini disebabkan oleh tingginya pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat krisis keuangan global yang membuat para pekerja beralih profesi menjadi wirausahawan.
Peran UMKM dalam perkembangan perekonomian nasional sangat penting, namun sektor ini masih memiliki kendala dalam legalitas, sumber daya manusia (SDM), rendahnya produktivitas, dan khususnya pemodalan (Sumber: Situs resmi Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia: http://www.depkop.go.id.)
Bank syariah memiliki perhatian besar dalam hal pemberian modal kepada sektor UMKM. Hal ini dikarenakan bank syariah berupaya melakukan flipping up the pyramid ( pembalikan piramid ekonomi; meminjam istilah Direktur Utama PT. Bank Syariah Mandiri, Bpk. Yuslam Fauzi, dalam sebagian ceramahnya). Per Agustus 2009, porsi pembiyaan UMKM perbankan nasional adalah sebesar 50,7%, sedangkan porsi pembiyaan UMKM bank syariah sebesar  72,8% (Sumber: Situs resmi Bank Indonesia: http://www.bi.go.id.)
Pembalikan piramida ekonomi bukanlah suatu harapan yang kosong, tetapi sesuatu yang amat sangat mungkin untuk direalisasikan. Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah membuktikannya dengan mencatat sejarah dengan tinta emas bahwa pada saat itu tiada seorang mustahiq pun yang patut untuk menerima zakat, artinya tidak ada kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat.
Akhir kata, semoga bank syariah sebagai salah satu instrumen keuangan ekonomi islam tetap berusaha semaksinal mungkin untuk mendorong aktifitas sektoril lebih baik, agar revitalisasi di bidang sektor riil di negara kita bisa berjalan lebih baik kedepannya.
Dan penulis pun berharap, semoga masyarakat kita semakin sadar akan pentingnya bank syariah bagi kemajuan perekonomian nasional terutama bagi kemajuan perekonomian sektor riil lebih baik, karena bank syariah tidak hanya sebagai bank yang terbebas dari transaksi-transaksi yang dilarang oleh syariat tetapi jauh dari itu, sebagi salah satu instrument keuangan syariah memiliki visi serta misi yang utama yaitu memajukan perekonomian umat. Oleh Karena itu masyarakat juga memiliki peran yang sangat pentingdalam hal ini, semakin banyak masyarakat yang menabung di bank syariah maka semakin banyak dana yang akan disalurkan oleh bank syariah kepada sektor riil, dan impian besar para founding father untuk pembalikan piramida ekonomi pun akan segera terwujud.  amin. Only God Knows
*Mahasiswa STEI TAZKIA Jurusan Ilmu Ekonomi Islam Semester 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar