Rabu, 07 April 2010

Moody's: Industri Keuangan Syariah Penuh Potensi tapi Miskin Inovasi


LONDON--Di tengah pukulan krisis global, instri keuangan syariah terus melaju. Menurut lembaga survei kelas dunia, Moody's Investors Service, fakta ini membuktikan potensi yang tak main-main dari sistem keuangan yang kini dilirik banyak negara itu. "Hanya saja, sektor ini (keuangan syariah) masih sangat miskin inovasi," demikian laporan terbaru mereka.

Menurut Moody's, pelaku industri keuangan syariah perlu melakukan terobosan baru agar lebih atraktif bagi konsumennya. "Industri keuangan Islam perlu mengembangkan fase inovasi sendiri dan tidak meniru instrumen derivatif konvensional agar mereka bisa tetap mempertahankan status khusus mereka dengan pendekatan syariah-compliant," tambah laporan itu.

"Misalnya dengan mengombinasikan sekuritisasi dan turunannya dan menawarkan lingkup yang cukup untuk mengurangi eksposur risiko lembaga keuangan Islam dan dengan demikian meningkatkan kelayakan kredit secara keseluruhan," demikian lembaga ini mencontohkan.

Menurut Anouar Hassoune, Vice President Moody's, jika digunakan dengan benar, derivatif dapat meningkatkan efisiensi dalam industri keuangan syariah melalui mitigasi risiko, sehingga membuat mereka lebih kompetitif serta menarik bagi pelanggan. "Namun, aplikasi di bidang keuangan Islam sangat kontroversial karena alasan spekulasi dan ketidakpastian, dua praktek terlarang di bawah syariah," ujarnya.

Pendapat ilmiah yang berbeda-beda dalam dunia hukum Islam pada legitimasi derivatif sejauh ini telah diterjemahkan ke dalam larangan total pada instrumen ini di beberapa negara dan implementasi yang sebenarnya - meskipun dalam skala terbatas - pada orang lain.

Meskipun ekonomi global memburuk, total aset industri keuangan Islam pada tahun 2009, meningkat menjadi 950 miliar dolar AS. Moody's memperkirakan bahwa potensi pasar bernilai sedikitnya 5 triliun dolar AS dan industri yang terus berkembang secara global.

"Dalam konteks ini, industri keuangan syariah terus memberikan keuntungan secara syariah, sementara pada saat yang sama, sektor ini fokus pada efisien mengurangi risiko yang terkait melalui pendekatan manajemen risiko baru, termasuk penggunaan derivatif, sehingga aman secara risiko," ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar