Rabu, 12 Mei 2010

Buletin Progres Edisi 50


Ekonomi Islam Melawan Riba dan Kemiskinan Umat
Nurshabrina*
Belakangan ini, makin menarik perbincangan seputar ekonomi Islam. Salah satu pemicu utama, keberhasilan perbankan syariah menunjukkan ketegarannya saat dihantam krisis ekonomi tahun 1997. Dimana pada tahun tersebut merupakan pengalaman pahit yang tak kan terlupakan oleh Negara ini, seakan-akan tahun itu menjadi sejarah abadi dalam hal krisi ekonomi terbesar di negeri yang dulunya terkenal dengan kesuburan dan kemakmuran kekayaan alamnya. Seharusnya Indonesia bisa mengambil pelajaran berharga dari kejadian tersebut, untuk selanjutnya mencari system  perekonomian yang tidak mengandung unsur riba di dalamnya.
Kita patut bersyukur dengan makin berkembangnya kajian tentang ekonomi Islam, saat kita membutuhkan banyak terobosan untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat. Setidaknya, dengan ini dakwah tentang bagaimana Islam mengatur ekonomi menjadi lebih mudah. Meski tentu saja tidak boleh berhenti di situ, tapi dilanjutkan dengan mengenalkan tema-tema keislaman yang lain.
Tidak  mungkin merumuskan sistem ekonomi Islam tanpa meletakkannya dalam kerangka besar yang bernama dienul Islam dengan segenap elemennya. Jika ekonomi islam dicabut dari kerangka besar yang bernama dienul Islam tersebut maka ia akan menjadi makhluq asing dan akan menjadi kuda tunggangan untuk mencari kenikmatan dunia belaka. Karena islam mengatur seluruh hajat manusia, sebagaimana Allah adalah pencipta manusia yang memenuhi seluruh hajat manusia sementara Rasulullah SAW adalah manusia yang dipilih Allah untuk menjelaskan teori pengaturan itu dan memberikan contoh nyata kepada umatnya bagaimana mekanisme pelaksanaannya. Ekonomi Islam adalah konsep tentang tata cara mendapatkan harta/kekayaan dan membelanjakannya menurut hukum dan adab yang terkandung dalam syariat Islam . Ekonomi Islam bukan soal harta benda dan manfaatnya semata. Tapi soal bagaimana maqashid syariah (Memelihara agama Islam, Memelihara Jiwa, Memelihara Akal, Memelihara Keturunan, Memelihara Harta) dapat diraih dan terpenuhi dengan hal-hal yang bersifat kebendaan dan kekayaan itu. Oleh karenanya, Islam tidak memberi bobot nilai kekayaan terhadap barang-barang yang tampak berharga tapi haram seperti khamer dan babi, padahal dari sisi ekonomi bisa menguntungkan. Demikian pula mengabaikan beberapa bentuk transaksi seperti saat ibadah jumat, riba dan perjudian karena dapat merusak keimanan manusia, meski bisa melahirkan keuntungan secara materi. Jika ekonomi Islam hanya berkutat sebagai alat mencari kekayaan duniawi dengan melupakan tujuan syariat yang lain, maka ia telah keluar dari relnya.
Bisakah sistem ekonomi Islam dimunculkan di tengah  sistem politik yang bukan Islam? Mengingat mayoritas penduduk negeri ini muslim?
Untuk menjawab pertanyaan ini, jika kita muncul dalam sosok yang sempurna, dengan segera bisa kita jawab; tidak. Sebab tak mungkin umat Islam mengelola pemasukan dari ghanimah, fai dan usyur. Namun jika kita lihat dari sisi lain masih banyak elemen lain yang masih bisa, misalnya zakat, wakaf, sedekah, kafarat dan lain-lain. Pengguliran dana yang terhimpun juga bisa beragam, sesuai dengan peruntukan masing-masing. Bila wakaf, bisa disalurkan dengan mekanisme wakaf. Bila harta titipan (tabungan) individu, bisa menggunakan berbagai variasi seperti dalam bank Islam. Bila dari sumber zakat, disalurkan dengan mekanisme yang diatur dalam zakat. Untuk zakat sendiri, dalam KDPPLKS  PSAK No. 101 sudah terdapat akunt yang kita kenal dengan nama “laporan sumber dan penggunaan dana zakat” dan “laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan”  yang merupakan jenis laporan keuangan yang secara khusus dikenal dalam laporan keuangan syariah. Dalam laporan penggunaan dana zakat penerima zakat dikelompokan berdasarkan sumbernya yaitu dari dalam entitas syariah dan dari pihak luar syariah. Penerima zakat terdiri dari delapan golongan yaitu fakir, miskin, amil, riqhab, gharim, muallaf, fiisabilillah dan ibnu sabil. Sedangkan dalam laporan penggunaan dana kebajikan menginformasikan penerimaan dan pengeluaran dan kebajikan yaitu infaq, shodaqoh, pengelolaan wakaf, dana kebajikan produktif, denda, dan dana non-halal. Seiring gema otonomi daerah, rasanya masih mungkin melahirkan embrio ekonomi Islam di tengah komunitas muslim, tentu dengan dukungan pemerintah daerah masing-masing, dan dengan ukuran sebesar daerah masing-masing.
Melawan riba sudah pasti, karena larangannya muhkam dan menjadi ijma ulama tak ada keraguan di dalamnya.. Persoalannya, bukan pada pengakuan haramnya riba akan tetapi bisakah kita mengalahkannya? Mengingat riba hari ini dalam puncak kedigdayaannya. Bukan lagi terjadi antar individu, tapi oleh negara bahkan antar negara. Puncak hegemoni itu tentu dengan naiknya dolar sebagai penguasa tunggal ekonomi dunia. Semua nilai harus tunduk pada dolar. Hutang piutang harus diukur dengan dolar. Apapun komoditi harus dinilai dengan dolar, bahkan emas dan perak sekalipun yang secara sejarah dan sunnatullah sebagai alat ukur nilai nominal suatu benda. Untuk kita, mengalahkan riba adalah karunia, tapi pekerjaan yang tidak boleh berhenti adalah melawannya kapanpun dan di manapun. Allah telah membekali kita dengan senjata mudharabah dan bentuk-bentuk lain yang dijabarkan dalam fiqh muamalah, sebagaimana dalam politik Allah membekali kita dengan konsep jihad fi sabilillah.
Kemiskinan adalah keniscayaan kehidupan. Penyebab terjadinya bukan karena kesalahan sang pencipta tapi karena kesalahan manusia yang rakus saat ia menguasai pundi-pundi kekayaan , seandainya manusia bisa membagi rata atas rezeki yang telah Allah berikan pasti tidak ada kemiskinan di dunia ini. Namun yang harus kita ingat, kebangkitan Islam bukan bertumpu pada kekayaan. Umat Islam pada masa Nabi dan Khulafaur Rasyidin mampu mendirikan Negara berdaulat dan menaklukkan Romawi dan Parsi bukan karena terlebih dahulu kaya lalu bisa menang. Tapi yang terjadi, kekayaan mengikuti kemanapun pedang berjalan. Justru karena bermula dari kemiskinan dan kerasnya kehidupan ini, jiwa mereka terasah laksana batu karang yang kokoh. Tapi yang lebih tepat, kita berupaya mengurangi porsi kekayaan orang-orang kafir dan orang-orang yang membenci Islam seminimal mungkin sebab jika mereka menguasai ekonomi mereka akan menggunakannya untuk mengganggu Islam dan umat Islam lalu kemudian menghancurkan orang-orang yang berada dalam lingkungan Islam tersebut. Sesungguhnya orang-orang kafir membelanjakan hartanya untuk menghalangi jalan Allah, maka mereka akan membelanjakannya (lagi), kemudian akan menjadi kerugian bagi mereka, kemudian akan dikalahkan. Dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan di neraka Jahannam. [Al-Anfal/8: 36].
 Allah mentaqdirkan Indonesia sulit beranjak dari kemiskinan barangkali tersirat pesan hikmah di baliknya: menjadi peluang mendidik kader-kader tangguh sebagaimana kemiskinan yang melilit jazirah Arab pada zaman Nabi. Ingatlah orang bijak berpesan: peluang terbaikmu adalah saat ini, bukan nanti. Tak ada rumusnya menunggu kaya baru berbuat.
Tak ada pencapaian besar tanpa berawal dari yang kecil. Menegakkan system ekonomi Islam baru pada ayunan langkah pertama, masih sangat jauh dari target yang diharapkan. Melawan riba dan kemiskinan juga demikian. Meruntuhkan bangunan riba, bukan semata terkait dengan aspek ekonomi. Sebab sistem ekonomi riba menjadi satu paket dengan sistem politik demokrasi dan kapitalisme. Keduanya menjadi urat nadi; riba menjadi urat sistem ekonominya dan demokrasi menjadi urat politiknya. Umat Islam tidak selayaknya selalu mengkambing- hitamkan sistem politik yang menyebabkan mereka miskin. Bila sistem bisa dirubah agar lebih berpihak kepada umat Islam, alhamdulillah. Jikapun tidak, kita tak boleh berpangku tangan dan meratapi kemiskinan. Dengan izin Allah, Banyak orang yang mampu keluar dari kemiskinan saat krisis ekonomi berkecamuk. Sekali lagi, inilah peluang untuk mengasah ketangguhan dan kecerdikan. Terakhir, mari kita aktualkan ArRum/30: 39 Dengan teriring harapan, semoga upaya kita menegakkan sistem ekonomi Islam mendapat ridha dan pertolongan dari Allah. Amien yaa robbal aalamiin.
Wallahu alam bis shawab.
 *Mahasiswi STEI Tazkia jurusan Akuntasi Syariah semester 4



Tidak ada komentar:

Posting Komentar