Selasa, 04 Mei 2010

Kajian Intermediate 22 April 2010

Kajian-kajian intermediate beberapa minggu ini Insya Allah akan terus diisi oleh mahasiswa-mahasiswa yang sedang mempersiapkan skripsi untuk gelar S.Ei mereka. Mata kuliah seminar ekonomi Islam ini bekerja sama dengan progress yang notabene sebagai wadah diskusi mahasiswa tentang ekonomi Islam beserta T-Smart agar seminar mereka bisa juga dilihat dan dikomentari oleh teman-teman yang lain.
             
Kajian kali ini mempertemukan dua pembicara yang memiliki dua topik yang berbeda, Akh Fauzan yang membawakan materi “Analisis Penerapan Gold Dinar Dalam Pengendalian Inflasi” serta Ukti Zakiyah dengan judul “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kredit Dan Pembiayaan Bermasalah Pada Perbankan Konvensional Dan Perbankan Syariah”.
Analisis Penerapan Gold Dinar Dalam Pengendalian Inflasi
Berlatar belakang dari salah satu problem penting yang dihadapi ekonomi dunia yaitu masalah inflasi. Apalagi penggunaan fiat money merupakan salah satu penyebab terjadinya krisis keuangan global yang datang silih berganti selama ini, wacana tentang penggantian fiat money dengan mata uang emas kembali mengemuka seiring dengan dampak yang ditimbulkan oleh uang fiat tersebut. Uang emas maupun perak disinyalir dapat mengendalikan inflasi sehingga terjadi stabilitas dalam perekonomian.
Uang Dinar dan Dirham telah dikenal orang Arab sebelum datangnya Islam, jadi pada masa sebelum datangnya Islam, uang dinar merupakan jenis uang yang digunakan dalam transaksi perdagangan tepatnya ketika pedagang pulang dari syam, mereka membawa Dinar emas Romawi (Byzantyum), dan dari Iraq mereka membawa Dirham perak Persia (Sassanid). Berbagai jenis uang dinar emas dan perak dirham beredar dalam perdagangan sebagai akibat dari banyaknya bangsa Arab yang berdagang dengan bangsa Romawi dan para pedagang yang melewati negeri arab. Pada saat itu, kota Makkah menjadi pusat perdagangan dan pertukaran mata uang, sehingga banyak para pedagang dari berbagai negeri datang ke kota Makkah untuk bertemu dan melakukan transaksi perdagangan.
Inflasi adalah keadaan perekonomian yang ditandai oleh kenaikan harga secara cepat sehingga berdampak pada menurunnya daya beli. Inflasi sering pula diikuti menurunnya tingkat tabungan dan atau investasi karena meningkatnya konsumsi masyarakat dan hanya sedikit untuk tabungan jangka panjang. Dinar dan Dirham merupakan alat tukar paling stabil yang pernah dikenal oleh dunia. Sebagai contoh harga seekor ayam pada masa Rasulullah, adalah satu dirham. Sampai saat ini, 1400 tahun kemudian, harga seekor ayam tetaplah satu dirham.
Melihat sejarah ekonomi Muslim pada masa lalu, seperti Al-Maqrizi ( 768 – 845 H) dalam bukunya Ighotsatul Ummah bi Kasyfil Ghummah memberikan pemikiran yaitu hanya Dinar dan Dirham yang bisa digunakan sebagai uang sebagai solusi permasalahan negara Malaysia saat itu. Pemateri memberikan beberapa alasan dari penggunaan mata uang dinar Islam dalam menuju stabilitas sistem moneter, antara lain Stable money (Pebedaan uang dinar dengan uang fiat adalah kestabilan nilai uang tersebut), Excellent medium of exchange (Dengan adanya nilai yang stabil dan standar yang sama di setiap negara, dinar akan memberikan kemudahan dan kelebihan bagi masyarakat untuk melakukan transaksi domestik dan transaksi internasional sekalipun), dan Minimizes speculation, manipulation dan arbitrage (Nilai dinar yang sama akan mengurangi tingkat spekulasi dan arbitrasi di pasar valuta asing).
Berdasarkan beberapa teori serta studi literatur yang ada, penulis menemukan bahwa ada pengaruh antara penggunaan Dinar dan penggunaan fiat money dalam pengendalian inflasi. Pengaruh tersebut ada yang bersifat langsung/jangka pendek atau tidak langsung/jangka panjang. Pengaruh Penerapan Dinar dalam stabilitas mata uang yang mampu dalam pengendalian inflasi. Kita akan mendapati kestabilan harga dan output dalam jangka panjang, walaupun tingkat harga tersebut mungkin akan berubah naik atau turun setahap demi setahap dalam beberapa tahun.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kredit Dan Pembiayaan Bermasalah Pada Perbankan Konvensional Dan Perbankan Syariah

Memandang resiko pembiayaan merupakan unsur resiko kerugian yang paling besar dalam dunia perbankan, baik perbankan konvensional maupun perbankan syariah, mengingat fungsi strategis perbankan yang menyalurkan dana ke masyarakat untuk menggerakkan perekonomian negara.
Pada perbankan konvensional, kredit bermasalah dikenal dengan nama non performing loan (NPL), sedangkan pada perbankan syariah dikenal dengan nama non performing finance (NPF). faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi NPL dan NPF??
Faktor-faktor yang mempengaruhi NPL dan NPF dari internal (dari perbankan sendiri) berasal dari 6 hal, diantaranya kemampuan bank dalam menganalisa dan pengawasan kredit atau pembiayaan, ekspansi kredit oleh perbankan, adanya itikad kurang baik dari pihak perbankan, LDR/FDR, asset, dan DPK.
Sedangkan dari eksternal bisa berasal dari nasabah yang bandel, terkena musibah, atau memang usaha nasabah yang gagal sehingga tidak bisa membayar kreditnya. Dan faktor eksternal yang cukup penting dalam mempengaruhi NPL dan NPF adalah keadaan makroekonomi suatu bangsa. Jika bank konvensional dipengaruhi kurs, inflasi, GDP  dan tingkat suku bunga, lain halnya dengan bank syariah yang tidak dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Sedangkan kurs, inflasi dan GDP merupakan hal yang uncontrollable karena menyangkut dengan ekonomi secara agregat.
            
Kajian pada hari ini juga didatangi oleh dua Presnas FoSSEI yang tiba-tiba hadir di tengah kajian, yaitu kak Muizzuddin dan kak Fauzul. Kak Muiz sendiri memberikan sambutan kepada mahasiswa Tazkia untuk tetap semangat dalam berdakwah Ekonomi Islam pada bangsa ini. Tidak lupa menyampaikan rencana ekspansi FoSSEI yang akan mulai berdakwah ke negara-negar ASEAN. Akhirnya kajian ditutup setelah wejangan dari bapak dosen Sanrego mengenai penilaian terhadap presentasi mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar