Selasa, 04 Mei 2010

Kajian Intermediate 29 April 2010


Pada kajian intermediate kali ini juga ada dua orang pembicara yang mempunyai judul yang hampir sama yaitu membahas tentang pasar modal. Presenter pertama adalah Hafidloh mahasiswa angkatan 7 STEI TAZKIA yang membahas pasar modal dan hal-hal makroekonomi yang mempengaruhi fluktuasinya.
Pengaruh Makro Ekonomi Global Dan Domestik Terhadap Pasar Modal Syariah
Berkembangnya institusi keuangan berbasis syariah di dunia mendorong berdirinya pasar modal berbasis syariah tidak terkecuali di Indonesia. Seperti halnya pasar modal konvensional, fluktuasi harga saham dipasar modal syariah juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi maupun non ekonomi.
Menurut hasil karya tulis Hafidloh, faktor-faktor yang mempengaruhi pasar modal konvensional juga mempengaruhi pasar modal syariah. Faktor-faktor tersebut dapat berupa faktor ekonomi maupun faktor non ekonomi.
Faktor ekonomi yang mempengaruhi pasar modal ialah variabel ekonomi makro global maupun domestik. Perubahan variabel ekonomimakro direspon investor untuk melakukan strategi investasi melalui penghitungan tingkat return yang diterima dari modal yang diinvestasikan. Investor akan menginvestasikan dananya pada tingkat return yang paling menguntungkan.
Pengaruh perubahan variabel makroekonomi global terhadap pasar modal di dunia berbeda-beda. Hal ini bisa dilihat dari berbedanya hasil penelitian yang dilakukan Fautia, Daniel dan Jon wongswan. Oleh karena itu perlu di lakukan penelitian empiris pengaruh perubahan makroekonomi global terhadap pasar modal syariah.

Integrasi Ekonomi Indonesia Dengan Dunia Internasional
Apakah Indonesia telah terintegrasi secara ekonomi dengan negara-negara lain? Dan apa dampak dari terintegrasinya suatu perekonomian tersebut? Hal itulah yang akan Kahfi bahas dalam paper nya. Terutama dari segi finanial yang diwakili oleh sektor pasar modal (stock market) yang dapat digunakan untuk mengukur efektifitas dari suatu kebijakan moneter dan fiskal.
Dewasa ini hampir tidak ada negara yang menerapkan model perekonomian tertutup. Karena dalam memenuhi kebutuhannya, setiap negara dihadapkan oleh banyaknya keterbatasan. Mulai dari keterbatasan sumber daya alam sampai keterbatasan SDM dan teknologi. Tidak semua kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat dalam sebuah negara dapat dipenuhi oleh sumber daya yang ada dalam negara tersebut. Oleh karena itulah, setiap negara mau tidak mau harus melakukan interaksi dengan duia luar. Dengan adanya interaksi internasional tersebut, diharapkan setiap negara mampu saling melengkapi dan saling memenuhi kebutuhan negara lainnya.[1]
Demikian pula Indonesia, bermula dari landasan politik yang berprinsip bebas-aktif berimplikasi terhadap terbukanya hubungan dengan dunia luar dalam hal ekonomi, baik perdagangan maupun keuangan. Banyak variabel yang yang mendeskripsikan interaksi perekonomian terbuka di pasar dunia, di antaranya adalah ekspor-impor, neraca perdagangan, dan nilai tukar mata uang.[2]
Hasil studi literatur yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia terintegrasi dengan negara-negara lain baik di tingkat regional (ASEAN, East ASIA, OIC Countries) dan global (WTO, US, UK) dalam hal perdagangan, financial, serta pasar modal. Integrasi tersebut berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi serta peningkatan produksi Indonesia
Untuk menghadapi globalisasi, banyak negara-negara yang membentuk kerjasama di bidang keuangan dan perdagangan internasional. Di bidang kerjasama keuangan internasional terdapat sejumlah prakarsa pada tingkat multilateral dan regional serta bilateral. Di tingkat global/multilateral telah dilontarkan gagasan mereformasi arsitektur keuangan global/internasional (international financial architecture) atau membentuk suatu arsitektur yang baru. Tujuan utama kerjasama keuangan internasional adalah untuk menjaga dan meningkatkan stabilitas keuangan.
Saat ini Indonesia telah tergabung dalam beberapa kerjasama regional seperti China-ASEAN Free Trade Agreement (C-AFTA) dan Organization of the Islamic Conference (OIC) Countries. Terutama C-AFTA, telah banyak berimplikasi terhadap perekonomian Indonesia baik sisi perdagangan maupun keuangan. C-AFTA bagaikan dua sisi pedang yang bisa berakibat positif atau negatif. Meskipun terlalu dini untuk mengatakan bahwa Indonesia tidak dapat bersaing dalam kesepakatan ini, namun hal tersebut bisa saja terjadi jika kita tidak siap dalam menghadapi persaingan.
Seperti biasanya pada akhir seminar, Pak Yulizar Sanrego, dosen seminar ekonomi Islam memberi tanggapan, nasihat, saran dan kritik kepada para panelis, panitia dan mahasiswa yang lainnya bahwasannya seorang ekonom itu harus berfikir sistematis, bicara sesuatu berdasarkan data yang logic dan valid, juga berpikir ekonomis dimana setiap pernyataan yang kita sampaikan haruslah menguatkannya dengan angka-angka dan data-data statistis yang ada.
Tetap Berjaya ekonom rabbani.. may Allah be with you in every single step you take..
Sampai jumpa di kajian intermediate selanjutnya.. : )


[1] S. Damanhuri, Prof. Dr. Didin, Bahan Ajar Ekonomi Pembangunan, STEI Tazkia, hal. 19
[2] Mankiw, N. George, Principle of Macro Economics, Thomson South-Western, 2004, hal. 230

Tidak ada komentar:

Posting Komentar