Minggu, 09 Mei 2010

Kajian Intermediate 6 Mei 2010



Layaknya Kajian Intermediate sebelumnya, lagi-lagi kajian kali ini diisi oleh anggota T-Smart 2007 dalam mata kuliah Seminar Ekonomi Islam. Dewi Puji Astuti, sebagai presenter pertama, mengambil  tema  “Pengaruh Indikator Makro Ekonomi Terhadap Kinerja Keuangan Industri Perbankan”. Studi terdahulu yang dijadikan acuan presenter  menyoroti mengenai perbankan Syariah, sementara secara studi pembahasan tidak terlalu menyoroti Perbankan Syariah. Meski begitu indikator-indikator yang diangkat dari sisi makro ekonomi serta indikator-indikator kinerja keuangan dianggap mewakili pembahasan seminar yang diangkat dari paper mahasisiwi  semester 6  ini.
Indikator ekonomi yang dianggap memiliki korelasi dengan kinerja perbankan adalah NPL, ROA, dan CAR. Sementara itu kondisi makro yang disebut adalah PDB, SBI, dan Nilai Tukar. Pembicara menyimpulkan presentasinya  dengan cukup jelas yaitu: PDB secara positif mempengaruhi CAR dan ROA, tapi tidak mempengaruhi NPL. Sedangkan SBI berpengaruh negative terhadap ROA dan CAR, tapi positif terhadap NPL. Dan yang terakhir Nilai Tukar berpengaruh positif terhadap  ROA dan CAR, tapi negative terhadap NPL.
Pembicara kedua adalah Nila Dewi yang mengemukakan paper nya yang berjudul “Analisis Instrumen Moneter Yang Mempengaruhi Volatilitas Obligasi Syariah (Sukuk) Dan Obligasi”. Mahasiswi semester 6 ini memaparkan bahwa obligasi syariah mempunyai kontribusi yang masih sangat rendah dibandingkan dengan obligasi konvensional. Menurut presenter, ada empat variable makro yang mempengaruhi volatilitas obligasi, yaitu: Inflasi, kurs rupiah, suku bunga, dan IHSG. Menurut studi literature beliau, Faktor yang mempengaruhi secara signifikan obligasi konvensional adalah IHSG dan kurs rupiah, sedangkan bagi obligasi syariah hanya dipengaruhi signifikan oleh kurs rupiah. Suku bunga berpengaruh terhadap volatilitas saham namun hal demikian tidak terjadi pada pergerakan volatilitas saham syariah yang justru tidak berpengaruh signifikan
Terdapat faktor yang sama mempengaruhi harga sukuk maupun obligasi, yaitu kurs rupiah karena kurs merupakan ukuran yang dipergunakan dalam transaksi antar Negara dan harga obligasi syariah terpengaruh secara tidak langsung oleh transaksi kurs, dimana kurs dapat meningkatkan pendapatan dan meningkatnya pendapatan akan meningkatkan bagi hasil yang akan didistribusikan kepada pemegang obligasi sehingga akan meningkatkan harga obligasi syariah di pasaran.
Faktor yang membedakan antara keduanya adalah bahwa obligasi dipengaruhi oleh tingkat suku bunga serta IHSG, namun tidak demikian terjadi pada harga obligasi syariah (sukuk) dimana keduanya tidak berpengaruh.
Terdapat perbedaan perilaku harga atau pergerakan volatilitas sukuk dan obligasi yang disebabkan oleh karakteristik dasar yang membedakan keduanya yakni kepekaan terhadap suku bunga sehingga tidak terjadi co-movement (pergerakan secara bersama-sama) antara sukuk dan obligasi.
Koreksi paper keduanya diberikan oleh pak rego, ternyata masih banyak hal yang secara teknis masih perlu diperbaiki dari kedua paper tersebut. Semoga kajian berikutnya bisa lebih baik lagi. Amin. Dan sebagai rasa terimakasih dan penghargaan kepada para presenter, progres memberikan sertifikat special untuk kedua pembicara hari itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar