Jumat, 21 Mei 2010

Buletin Progres Edisi 52


Refleksi Perjalanan 18 Tahun Bank Syariah Di Indonesia

Fiqh Afriadi*
 
Uang bagaikan darah bagi sebuah perekonomian. Sebagaimana sebuah tubuh tanpa darah akan mati, perekonomian tanpa adanya uang akan stagnan dan mengalami banyak sekali kesulitan. Sedangkan institusi yang memiliki peranan sangat vital dalam lalu lintas perputaran uang adalah perbankan. Dari sinilah proses islamisasi sistem ekonomi dimulai. Di mana dengan didirikannya Bank Syariah, bisa menjadi langkah awal untuk mengislamisasi institusi-institusi yang lain yang memiliki peranan penting bagi perekonomian. Terbukti dewasa ini islamisasi sistem ekonomi ternyata sudah merambah hampir di seluruh bidang di luar Bank, seperti Asuransi, Pasar Modal dan Pegadaian.
Dalam perjalanannya yang ke-18 tahun ini semenjak beroperasinya Bank Mu’amalat pada tanggal 1 Mei 1992[1], pertumbuhan Perbankaan Syariah mengalami kemajuan yang cukup menggembirakan. Di mana pada akhir tahun 2009 yang lalu, Growth Bank Syariah Year on Year mencapai 26,55% dua kali lipat growth perbankan konvensional yang hanya mencapai 12,53%. Begitu juga dalam segi intermediasi yang merupakan fungsi utama sebuah Bank, Perbankan Syariah dianggap lebih baik dibandingkan Bank Konvensional. Di mana financing to deposit ratio (FDR) Bank Syariah selalu diatas 90%[2].
Namun meski perkembangan perbankan syariah telah mengalami kemajuan yang cukup menggembirakan, banyak kalangan yang masih mempertanyakan atau bahkan menggugat eksistensi dari Bank Non-Ribawi ini. Banyak kalangan yang menganggap eksistensi bank syariah tidak lain adalah kepanjangan tangan dari sistem kapitalis atau bahkan lebih kapitalis dari bank konvensional. Dengan kata lain Bank Syariah adalah Kapitalis berjilbab yang hanya memakai kedok agama Islam untuk menutupi kebusukannya. Kritikan pedas seperti di atas sering terlontar terutama dari kalangan Islam Liberal. Ulil Abshar Abdallah misalnya, dia mengatakan bahwasanya akad-akad yang digunakan dalam Bank Syariah tidak lain adalah Arabisasi[3] dari transaksi-transaksi yang sudah berlaku.
Selain datang dari kalangan Islam Liberal[4], kritikan terhadap Bank Syariah juga muncul dari kalangan Muslim Fundamentalis[5] yang selalu menginginkan penerapan syariah secara penuh dalam setiap aspek kehidupan. Berbeda dengan kritikan dari kalangan Islam Liberal, kritikan yang dilontarkan oleh kalangan fundamentalis ini biasanya lebih kepada kelemahan Bank Syariah dari segi kepatuhannya terhadap syariah. Di mana menurut mereka Bank Syariah yang ada saat ini masih tidak 100% bebas dari sistem ribawi yang selama ini menguasai perekonomian dunia. Di mana Bank Syariah sampai saat ini masih menggunakan uang kertas yang menurut mereka adalah sumber ribawi dalam perekonomian. Salah satu tokoh dari kalangan ini yang cukup terkenal adalah Zaim Zaidi[6] yang menulis buku berjudul “Tidak Islamnya Bank Syariah”.
1.1.1.      Keberpihakan Bank Syariah terhadap Sektor Riil
Secara singkat dapat dikatakan bahwa kapitalisasi akan lebih cenderung kepada sektor moneter daripada sektor riil. Semakin cenderung ia kepada sektor moneter, maka semakin kapitalis dia. Sebaliknya semakin dia berpihak kepada sektor riil maka semakin tidak kapitalislah dia.
Lalu bagaimana dengan Bank Syariah dan bank konvensional apakah dua-duanya kapitalis, atau manakah yang lebih kapitalis, atau salah satunya saja yang kapitalis. Dalam perbankan, kecenderungan kepada sektor riil dapat dilihat dari LDR(loan to deposit ratio) dan FDR (financing to deposit ratio), serta total dana mereka yang disalurkan ke SBI, pasar uang dan pasar modal. Semakin besar atau tinggi FDR atau LDR-nya maka akan semakin berpihak kepada sektor riil. Sedangkan semakin tinggi atau besar dana yang diletakan pada SBI, pasar uang dan pasar modal maka ia akan semakin tidak berpihak kepada sektor riil.Untuk menyingkat kata, penulis akan menunjukan seberapa besar FDR dari Bank Syariah dan LDR dari bank konvensional, serta proporsi dana mereka yang ditaruh pada SBI, pasar uang dan pasar modal.
Dari data statistik BI dapat penulis lihat bahwa FDR Bank Syariah sampai dengan agustus 2009 berada diatas 100%,itu menunjukan bahwa keberpihakan Bank Syariah kepada sektor riil sangat besar. Namun setelah agustus 2009 FDR terus menurun hingga ketitik terendahnya yaitu 86% pada bulan januari, dan kembali naik diatas 90% pada bulan februari. Sedangkan bank konvensional LDR dari tahu ke tahun mengalami kenaikan sampai dengantahun 2008, namun kenaikan itu hanya mentok diangka70%, dan setelah itu berjalan konstan sampai dengan januari 2010. Dengan demikian, Bank Syariah adalah perbankan yang sangat mendukung adanya sektor riil bila dibandingkan dengan bank konvensional.
1.1.2.      Keberpihakan Bank Syariah terhadap UMKM
Sektor UMKM merupakan sektor yang sangat mendominasi di indonesia. Lebih dari 90% sektor usaha di indonesia adalah UMKM, bahkan kebanyakan mereka adalah super mikro.  Namun sektor ini kurang mendapat perhatian dari berbagai pihak.begitu juga dari pihak kapitalis mereka menganggap bahwa sektor UMKM sangat rentan dan dianggap kurang mampu mengelola dan mengembalikan jika diberi modal segar. Pernyataan itu sudah terbantahkan sejak lama, salah satunya dengan adanya grameen bank karya M Yusuf. Namun hingga kini keberpihakan dari kaum kapitalis masih saja kurang karena mereka masih kurang percaya dan takut jika uang mereka tidak kembali lagi, mereka lebih suka menginvestasikan uang mereka kepada usaha yang besar atau pada bursa efek.
Pihak kapitalis akan cenderung tidak mau menginvestasikan dananya kepada sektor UMKM. Semakin tidak berpihak mereka kepada UMKM maka semakin kapitalis dia. Lalu bagaimana dengan keberpihakan Bank Syariah dan bank konvensional kepada UMKM. Dari data statistik BI dapat dilihat bahwa peningkatan investasi bank syariah disektor UMKM jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bank konvensional
1.2.   Bank Syariah menuju Islamisasi atau Kapitalisasi
Dari paparan fakta diatas dapat diketahui bahwa Bank Syariah bukanlah bank yang kapitalis. Proses mencari laba Bank Syariah adalah karena dia  merupakan badan usaha dan bukan sebagai lembaga sosial. Adalah hal yang salah apabila ingin mendapatkan semacam dana gratis dari Bank Syariah. Dalam islam lembaga sosial adalah lembaga zakat dan beberapa lembaga lainya. Para nasabah yang kecewa ketika usahanya bermasalah, kekecewaanya dikarenakan tidak sesuainya apa yang diharapkan olehnya dengan tindakan yang dilakukan Bank Syariah. Kekecewaan ini juga diakibatkan oleh adanya ketidak tahuan akan informasi, sehingga penulis anggap perlu agar bank lebih memberikan informasi dan nasabah perlu juga aktif mencari informasi yang tidak diketahuinya.Beberapa dari pengkritik Bank Syariah juga hanya melihat sebagian saja dari Bank Syariah, apabila ia melihatnya secara menyeluruh maka ia akan mafhum dan tidak mempermasalahkan Bank Syariah.
Urgensi didirikanya Bank Syariah adalah untuk menghindari hal yang haram berupa riba bagi kaum Muslim. Selain itu Bank Syariah sudah terbukti mampu melalui krisis dengan konsep bagi hasilnya. Jika kita bandingkan dengan bank konvensional yang berbasis riba, ketika krisis datang ratusan bank berguguran, dan bank yang masih bertahan menyedot kas negara sampai 600 trilyun, angka yang hingga kini masih kita rasakan imbasnya karena melilit hutang kita.
Selain itu kekurangan perbankan Islam adalah suatu hal yang pasti karena belum lama didirikan, yang penting disini adalah adanya perbaikan dari tahun ketahun, dan perbaikan itu sudah terbukti oleh fakta diatas. Ada baiknya jika para kritikus Bank Syariah dalam mengkritik Bank Syariah langsung kepada pihak praktisi jangan ke masyarakat. Karena jika itu dilakukan maka akan menjadikan masyarakat bingung dan bisa jadi kembali ke bank konvensional. Untuk terwujudnya Bank Syariah yang ideal maka perlu adanya kerjasama dari seluruh kaum Muslimin. Mari kita saling mendukung dan memperbaiki agar tercapai masyarakat Muslim yang kaffah diberbagai bidang.
*Mahasiswa STEI TAZKIA Jurusan Ilmu Ekonomi Islam Semester 4

[1] Antonio, Muhammad Syafi’i.2001.bank syariah dari teori ke praktek, Jakarta: Gema insani press, hal-25
[2] Outlook Perbankan Syariah 2010
[3] Proses mengikuti adat dan kebiasaan masyarakat arab
[4] Sebuah aliran pemikiran islam yang berusaha memisahkan aspek agama dari kehidupan sehari-hari
[5] Sebuah aliran pemikiran islam yang menginginkan penerapan ajaran islam secara ideal diseluruh aspek kehidupan manusia
[6] Penulis buku tidak Islamnya Bank Syariah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar