Senin, 17 Mei 2010

Rp 9 M dari BMM untuk Usaha Mikro Berbasis Masjid

SURABAYA--Surabaya menjadi salah satu lokasi pengguliran program Komunitas Usaha Mikro Muamalat Berbasis Masjid (KUM3). Pilihan ini jatuh karena Surabaya dinilai strategis dalam pembangunan ekonomi nasional.

Untuk itu, secara khusus, Baitul Maal Muamalat (BMM) -- lembaga amil zakat nasional (laznas) yang menjalankan fungsi sosial Bank Muamalat -- menyalurkan dana bantuan modal sebesar Rp 611 juta untuk 459 orang pelaku ekonomi mikro yang tersebar di 20 masjid. Masing-masing mendapatkan Rp 750 ribu hingga Rp 2 juta dalam bentuk pinjaman penambahan modal.

‘’Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, BMM meyakini potensi usaha mikro di Surabaya layak dikembangkan,’’ kata Direktur Eksekutif BMM, Isnaini M Aziz, pada peluncuran program KUM3 di Surabaya, Senin (17/5).

Ia menyebutkan, sejak peluncuran program KUM3 pada 2006, menurut dia, total dana yang digulirkan sebanyak Rp 9,06 miliar dengan tingkat pengembalian 80 persen. Dana tersebut telah mampu memberdayakan 4.697 pengusaha mikro yang tersebar 185 masjid di 21 provinsi dan 28 kabupaten seluruh Indonesia.

Banyak pengusaha mikro yang kemudian meningkat aset dan labanya. ”Tugas kami adalah memberdayakan mereka – dalam bentuk pembinaan agama dan usaha – sehingga derajatnya naik dari mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat),. Selian itu, untuk menghindarkan mereka dari jeratan rentenir,’’ kata M Aziz.

Ia juga menyebutkan, sampai tahun 2009 dana yang terhimpun di BMM sebesar Rp 18,8 miliar. Sektor pemberdayaannya adalah untuk bantuan bencana alam, beasiswa, pendidikan, dan sebagian besar untuk program KUM3. ‘’Target BMM pada 2010 yaitu Rp 40 miliar untuk penghimpunan dan Rp 30 miliar untuk penyaluran dana,’’ ungkapnya.

Sementara program KUM3 di Surabaya, diserahkan oleh Setiabudi, Area Manager Bank Muamalat Jawa Timur, Bali dan Nusra. Diterima oleh Ponidi, pedagang soto jamaah Masjid Rahmat, Kembang Kuning, Surabaya. Turut hadir Ustad Subkhi Al Bughury. Kegiatan ini juga digelar untuk menyongsong Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2010. “Selain aktivitas bisnis, Bank Muamalat melakukan aktivitas sosial dalam memberdayakan masyarakat tak mampu melalui BMM”, ungkap Setiabudi.

Sementara Ustad Subkhi Al Bughury menilai, KUM3 mengandung makna kebangkitan bagi masyarakat kurang mampu. ”Jadi, Hari Kebangkitan Nasional bisa dijadikan momentum kebangkitan usaha mikro di Indonesia,” katanya.

Ketua Pengurus Yayasan Masjid Rahmat Kembang Kuning, KH Abdul Muhid Murtadlo, mengakui, sejak program KUM3 digulirkan di masjidnya, banyak para pedagang kecil yang juga jamaahnya makin meningkat taraf hidupnya. “Kami menilai peran BMM kongkrit dalam memakmurkan masjid”, katanya.

Humas BMM, Betsy E Jiesral, menambahkan, kriteria penerima MUM3 adalah mereka yang tergolong mustahik, mempunyai jiwa wirausaha melalui training yang di gelar oleh BMM, mau mengikuti aturan-aturan yang d`ibuat BMM, bersedia untuk melakukan shalat lima waktu, dan mempunyai komunitas di sekitar masjid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar