Rabu, 28 Juli 2010

Buletin Progres Edisi 53


PRAKTEK BISNIS
MAKHLUK DENGAN SANG KHALIK
Oleh : Lulu' Al-Maknun Salim

TERNYATA AKU SANGAT KIKIR
Berbicara tentang mendermakan harta (sedekah) atau mungkin kita katakan zakat dan infak bukanlah topik yang disenangi jiwa. Sebab, cinta harta dan bakhil dengannya termasuk fitrah jiwa manusia. Dan salah satu cap yang  paling kita benci adalah “bakhil”. Kita sangat tidak suka apabila orang memberikan kita gelar sebagai “si bakhil”. Tapi bagaimanapun, kita harus menyadari bahwa sifat bakhil, kikir atau cinta harta ini sudah menjadi bagian dari fitrah manusia seperti kita.
Kita tidak perlu heran atau ingin memungkiri hal di atas, karena Allah SWT pun menyatakan dalam firman-NYa yang berbunyi;
وَتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
Dan kamu (manusia) mencitai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (Al-Fajr: 20).
Maksudnya, manusia itu diciptakan dengan fitrah mencintai harta dengan cinta yang sangat lagi berlebih-lebihan.
Dan untuk lebih jelasnya Allah juga mengatakan bahwa manusia itu sangat kikir, sebagaimana dalam surat al-Isra`: 100 yang berbunyi:
 وَكَانَ اْلإِنْسَانُ قَتُوْرًا
“Dan adalah manusia sangatlah kikir.”
Inilah penggambaran Allah Yang Mengetahui ciptaan-Nya.  Zat Yang Mengetahui terhadap apa yang di dalam jiwa dan yang disembunyikan di dalam dada.
Maka dari pada itu kita tidak perlu heran dan tidak perlu mencari-cari alasan supaya kita tidak dikatakan bakhil, pelit atau kikir. Karena Rasulullah Muhammad SAW mengakui bahwa manusia itu sangatlah kikir.
Hal ini dibuktikan dalam hadis Beliau yang diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Ath-Thobrani dari Zaid bin Arqam ra, Beliau bersabda:
لَوْكَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ وَفِضَّةٍ لاَبْتَغَى إِلَيْهِمَا آخَرَ
“Seandainya anak adam (manusia) mempunyai dua bukit dari perak dan emas, pasti ia masih mencari yang lainnya”.
Lihatlah dengan baik dan seksama wahai anak Adam akan gambaran Rasulullah SAW tentang manusia yang di dalamnya jiwanya selalu mengalir naluri untuk memiliki, menyimpan, menumpuk-numpuk dan mengusai harta benda.
Wahai saudaraku! Wahai anak cucu adam! Wahai sekalian manusia! Tidak perlu heran dan tidak perlu malu bahwa dalam jiwa kita ini telah menancap sifat kikir atau bakhil bahkan telah merasuk dalam jiwa. Allah SWT Yang Selalu Benar firman-Nya, akan tetap Benar dan selamanya akan selalu benar firman-Nya telah terbukti di kehidupan kita. Begitupun ungkapan Rasulullah SAW tidak pernah salah.
Sebagai contoh yang paling kecil dan paling dekat adalah pakaian yang kita pakai. Utamanya ibu-ibu dan gadis remaja modern sekarang. Coba kita hitung jumlah baju atau kerudung yang kita miliki! Ada berapa jumlahnya? Mungkin 15 sampai dengan 30 lembar kerudung, dan semua bagus, itu di luar kerudung “langsung pakai”. Sekarang pertanyaannya, satu minggu ada berapa hari? Kita semua meyakini bahwa jumlah hari dalam satu minggu hanya ada 7 hari. Sekarang coba kita bayangkan! Jika dalam sehari kita memakai 1 kerudung maka dalam seminggu kita menghabiskan 7 lembar kerudung. Pertanyaan selanjutnya, kemanakah 23 kerudung sisanya? 1 hari kita memakai 1 kerudung, katakanlah hal itu sengat sederhana, sekarang dalam 1 hari kita memakai 2 kerudung maka dalam seminggu kita habiskan kerudung sebanyak 14 lembar kerudung. Pertanyaan selanjutnya, kemanakah 16 (30-14=16) lembar kerudung yang kita miliki. Apakah dengan digantungnya di lemari ia akan mendatangkan manfaat yang bisa menyelamatkan anda dari jilatan api neraka.
Di sisi lain, kita tahu bahwa masih banyak anak-anak kita di panti-panti asuhan yatim piatu yang hanya memiliki 2 lembar kerudung yang harus di pakai dalam 7 hari (seminggu). Sementara orang tua mereka telah tiada, dan hati kita tidak pernah bergerak untuk menginfakkan atau menyedekahkan kerudung kita yang hanya tergantung di dalam lemari. Astagfirullah……
Itu adalah contoh kecil dari kerudung yang kita miliki. Bagaimana dengan baju kita, rok, celana, sandal, sepatu, cincin emas, kalung, anting-anting, uang tunia, atm, cek, rumah, bangunan, kendaraan, tanah, kebun, binatang ternak dan perhiasan dunia yang lain. Apakah menumpuk-menumpuknya akan mendatangkan manfaat untuk menghindarkan kita dari murka Allah SWT?
Pernahkah anda melihat seorang supir yang mengemudikan mobilnya dengan melawan rasa kantuk, dia tidak mau beristirahat dan rela mempertaruhkan nyawanya dan nyawa orang yang bersamanya dengan kematian, hanya demi memperoleh harta?
Inilah fenemona yang membuktikan bahwa sifat bakhil dan kikir ada dalam jiwa saya, ada di dalam jiwa anda dan ada di dalam jiwa kita semua sebagai manusia.
Kesimpulannya, kita telah menyadari dan telah menemukan di dalam jiwa kita fitrah rasa cinta dan naluri kecenderungan terhadap harta. Kemudian Allah SWT meminta kita menginfakkan di jalan-Nya. Di sinilah kita harus menentukan pilihan dalam jiwa kita dengan cepat dan pasti, manakah yang lebih kita cintai? Harta atukah Allah SWT?
Demikianlah, harta ataukah Allah! Tentu setiap orang akan berkata dengan lisannya termasuk kita, “Aku lebih memilih Allah dan lebih cinta pada-Nya daripada selain-Nya.” Akan tetapi, hal ini perlu bukti tidak cukup dengan ucapan saja. Karena kalau tidak, sama saja dengan bohong yang merupakan sifat orang munafik.
Dengan adanya fitrah cinta harta ini maka mencullah anggapan bahwa “bersedekah, berinfak atau zakat akan merugikan pelakunya”. Benar atau tidak?

PRAKTEK BISNIS MAKHLUK DENGAN SANG KHALIK
1.       Perniagaan Yang Tidak Ada Ruginya
Sering kali Allah SWT menggunakan kata-kata membeli atau menjual untuk mengungkapkan sedekah dan infak. Coba kita perhatikan ayat dibawah ini:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, (yaitu) jiwa dan harta mereka, dengan memberikan surga untuk mereka.” (At-Taubah: 111)
Itulah surga yang akan Allah SWT bayarkan kepada kita, jika kita mau menjual jiwa kita dengan jalan jihad dan harta benda kita dengan jalan bersedekah, berinfak atau zakat. Sekarang tinggal kita pilih antara cinta harta benda ataukah mengadakan perniagaan dengan Yang Maha Kaya yang keuntungannya adalah surga.

2.       Harta Yang Tidak Akan Pernah Berkurang.
Rasulullah SAW pernah bersumpah bahwa sedekah tidak akan mengurangi jumlah harta kita. Berarti ganti dari infak itu harus sudah terwujud sempurna ketika di dunia sebelum di akhirat. Baik dengan datangnya harta, ataupun terselesaikannya salah satu persoalan yang sedang kita hadapi, karena berkah dari infak yang kita berikan.
Seharusnya, seorang muslim tidak membutuhkan kepada sumpah Rasulullah SAW supaya mereka mempercayainya. Akan tetapi, Beliau SAW bersumpah atas suatu perkara yang terkadang masih diragukan oleh sebagian orang. Hal tersebut menjadi suatu bentuk penekanan terhadap perkara itu, dan sebagai motivasi untuk orang yang hatinya masih ragu dan tidak yakin.
At-Tirmidzi meriwayatkan dan ia berkata, “ini adalah hadis hasan shahih.” Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, dari Abu Kabsyah yang berkata, “Rasulullah SAW bersabda:
ثَلاَثةٌ أُقْسمُ عَليْهنَّ وأحدِّثُكُم حديْثًا، فَاحْفَظوْهُ قال: مَانَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلاَّ زَادَهُ اللهُ عِزَّا، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلاَّ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ.
ِAda tiga perkara yang aku bersumpah atasnya dan aku kabarkan dengan kabar dengan kabar yang agung, maka ingatlah: tidak berkurang harta seorang hamba yang bersedekah (dizkatkan), dan tidaklah seorang hamba dizalimi kemudian ia bersabar, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya, dan tidaklah seorang hamba mebuka pintu meminta-minta (mengemis) melainkan Allah akan membukakan baginya pintuk kefakiran.”
Sekarang bagaimana kita? Apakah cinta harta ataukah cinta dan percaya akan sabda Muhammad SAW?

3.       Simpan Pinjam Yang Terus Bertambah
Dalam pembahasan infak, Al-Qur`an menggunakan lafal-lafal manakjubkan yang tidak pernah dibayangkan dan diduga oleh manusia. Coba kita perhatikan bagaimana Allah menyeru kita dengan lemah lembut dan rasa cinta:
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Siapakah yang mau memberikan pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (Al-baqoroh: 245)
Subhanallah! Padahal, harta tersebut adalah harta-Mu, dan hamba adalah hamba-Mu. Engkau perintahkan kami hamba-Mu untuk memberikan pinjaman kepada-Mu dari hari harta-Mu sendiri?
Kemudian, jika kami telah memberikan pinjaman kepada-Mu, Engkau lipat gandakan harta kami menjadi lebih banyak? Subhanallah! Rabb yang memiliki sifat demikian memang sangat layak disembah, dicintai, diagungkan dan dimuliakan.
Subhanallah! Bahkan lebih dari itu, Engkau juga melipatkan gandakan harta kami tidak hanya 10 kali lipat tapi 700 kali lipat. Subahanallah!
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqoroh: 261)
اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
"Ya Allah Tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu dan untu selalu memperbaiki ibadah kepada-Mu.” Amin ya Rabb….

PENUTUP
Kita sesama manusia yang tercokol di dalam hati kita sifat kikir, kami mengajak para pembaca untuk membaca dan memperhatikan koran-koran, majalah, berita di televisi tentang sedekah. Apakah saudara-saudaraku pernah membaca atau menyaksikan berita bahwa ada seseorang yang jatuh miskin atau menjadi bangkrut lantaran menginfakkan atau menyedekahkan hartanya di jalan Allah SWT?
Kalau “ia”, jangan pernah bersedekah lagi! Tapi kalau “tidak”, maka prinsip anda sekarang adalah tiada hari tanpa berbagi (bersedekah), kerenanya anda akan menjadi kaya, Insya Allah. Bahkan saya berani bersumpah, demi Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Anda tidak akan melarat dan jatuh miskin selama Anda masih mau berbagi (besedekah). Selamat mencoba…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar