Rabu, 28 Juli 2010

Buletin Progres Edisi 54


EKSISTENSI AKUNTANSI ISLAM
Oleh: Astuti Karina Sitepu

            Akuntansi mengalami perkembangan yang signifikan. Hal ini dapat dilihat dari evaluasi yang senantiasa dilakukan oleh organisasi atau lembaga akuntansi. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah perubahan di dalam sistem akuntansi. Contohnya adalah IFRS (International Financial Reporting Standard), sebagai standar internasional akuntansi yang akan digunakan oleh beberapa negara termasuk Indonesia pada tahun 2012.
            Di Indonesia, ada sebuah organisasi profesi yang menanggapi perkembangan akuntansi keuangan yang terjadi, baik tingkat nasional, regional, maupun global, khususnya yang mempengaruhi dunia usaha dan profesi akuntansi, yaitu Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). Pengembangan standar akuntansi dilakukan secara terus menerus. Mulai dari penerbitan buku Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) tahun 1973 hingga Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang ada saat ini.     
            Dari pernyataan di atas, dapat dilihat bahwa keberadaan akuntansi diakui di seluruh dunia. Tetapi yang jadi pertanyaan adalah apakah akuntansi yang diakui sudah berdasarkan prinsip Islam. Jawabannya belum. Dunia internasional masih mengembangkan akuntansi konvensional dengan berbagai konsep dasar yang masih berseberangan dengan prinsip Islam. Sebagai contoh, penerapan accrual basis dalam laporan keuangan. Selain itu, ada sebuah prinsip conservatism yang diterapkan, yakni prinsip “kehati-hatian” dimana ketika terjadi kerugian maka perusahaan akan secara cepat mengakui. Tetapi, ketika ada keuntungan, maka perusahaan belum tentu mengakui. Walaupun Sofyan Safri Harahap dalam buku Akuntansi Islam-nya menyimpulkan bahwa para ilmuwan barat memandang ajaran Islam tidak bertentangan dengan penalaran ilmiah.

Akuntansi Konvensional
            Secara umum, persepsi yang melekat pada masyarakat terhadap ilmu akuntansi adalah masih pada konsep fundamental. Akuntansi dinilai hanya sebagai proses catat mencatat, pelaporan financial, dan auditing. Tentunya aktivitas-aktivitas ini didominasi oleh organisasi profit. Organisasi yang profit oriented yang memiliki kecenderungan untuk melakukan ‘kecurangan’ demi mencapai ambisinya.
            Perkembangan akuntansi konvensional diakui luar biasa. Mengingat akuntansi konvensional ini berorientasi kepada pengguna (user) dan pemilik (owner), yakni memaksimalkan laba. Inilah yang menjadi salah satu kelemahan sitem akuntansi konvensional. Suatu sistem yang lahir dari ‘perut’ ekonomi kapitalis yang selalu mementingkan kepentingannya sendiri.
            Banyak pihak yang masih menyalahgunakan fungsi dari akuntansi. Seolah-olah akuntansi itu bisa melakukan berbagai fungsi di luar fungsinya yang sebenarnya. Akuntansi itu pasif bukan aktif. Dia hanya mampu memberikan informasi sesuai objek yang memang bidangnya, yakni semua informasi tentang transaksi keunangan yang dilakukan perusahaan yang mempengaruhi kekayaan, utang, dan modal. Akuntansi bisa mempengaruhi orang lain setelah informasinya terwujud. Apabila akuntansi disalahgunakan, maka akan salah juga informasi yang disampaikan kepada orang lain. Secara tidak sadar, bahwa akuntansi yang salah maka akan berkesinambungan.
            Dalam ideologi kapitalis, kapitalis berusaha bukan hanya sebagai produser harta, tetapi dia berusaha untuk terus-menerus menjadi penguasa dalam memupuk harta. Hal ini sangat bertentangan dengan prinsip keadilan. 
           
Akuntansi Islam
            Studi akuntansi Islam dimaksudkan untuk mengungkapkan konsep akuntansi Islam secara jelas. Akuntansi Islam memberikan peran dan fungsi yang sejalan dengan nilai-nilai Islam yang universal. Akuntansi Islam juga berusaha menyelesaikan berbagai persoalan akuntansi yang terus berkembang di masyarakat. Hal ini dilakukan dengan melakukan pengembangan kajian di bidang akuntansi Islam demi mencapai falah oriented.
            Pembahasan akuntansi di dalam Islam tidak mengada-ada. Ada referensi sah dan jelas, yakni Al Qur’an surat al Baqarah ayat 282 yang berbunyi:

            “ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya….”

           Dapat dipastikan bahwa pemeliharaan akuntansi wajib hukumnya dalam suatu perusahaan bahkan juga pribadi. Dalam Islam selalu ditekankan jangan melakukan kecurangan dan menimbulkan kerugian kepada pihak lain. Ketentuan ini harus ditegakkan dengan cara apapun. Harus ada sistem yang dapat menjaga agar semua hak-hak stakeholders termasuk sosial dan pemerintah dijaga dan jangan samapai ada yang dirugikan dalam kontrak kerjasama.
            Dari ayat Al Qur’an di atas, bahwa telah ada perintah untuk melakukan sistem pencatatan di dalam Islam. Hal ini bertujuan untuk kebenaran, keterbukaan, keadilan antara dua pihak yang mempunyai hubungan muamalah. Akuntansi juga merupakan upaya untuk menjaga terciptanya keadilan di dalam masyarakat karena akuntansi memelihara catatan sebgai accountability dan menjamin akurasinya. Pentinganya keadilan ini dapat dilihat dalam Al Qur’an surat Al Hadid ayat 24, yang berbunyi:
           
            “Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan Neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.”

           Sejauh mana perkembangan akuntansi di dalam Islam? Perlu diketahui bahwa akuntansi yang kita kenal sekarang ini diklaim berkembang dari peradaban Barat (sejak Pacioli). Padahal menurut penelitian sejarah bahwa perkembangan akuntansi sudah ada sebelum abad ke-9, ketika sistem angka sudah dikenal Islam -- sebelum Pacioli dengan ilmu matematikanya.
           Akuntansi berkembang karena penerapan system ekonomi Islam khusunya dalam dunia bisnis, misalnya keuangan, perbankan, asuransi, dan perusahaan lainnya. Lebih dari 250 lembaga binsis di tingkat internasional telah menerapkan sistem syariah ini dalam mengoperasionalkan binsisnya. Mueller dan Belkaoui menyebut  Akuntansi Islam ini sebagai emerging model dengan basis religious relativism yang didasarkan pada hukum syariah.
           Islam itu sudah memiliki regulasi sendiri untuk manusia. Alloh telah jauh mengatur hal-hal apa saja yang harus dilakukan oleh manusia, termasuk ‘aturan main’ dalam akuntansi. Islam dapat dijelaskan dalam berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama, sistem nilai, ilmu, tata cara ritual, dan sistem kehidupan. Akuntansi Islam bukan mengenai agama (fiqih), ia sejajar dengan ilmu akuntansi kapitalis. Kalau akuntansi kapitalis dibangun atas dasar filsafat sekulerisme—hasil pemikiran manusia tanpa campur tangan Alloh SWT, maka akuntansi Islam dibangun di atas dasar pemikiran manusia yang melibatkan hukum-hukum Alloh SWT di dalamnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar