Rabu, 28 Juli 2010

Buletin Progres Edisi 55

ACFTA MENURUT ISLAM
 Oleh : Susi Susanti
Di awal tahun 2010 masyarakat Indonesia dibingungkan dengan adanya kesepakatan presiden yang menyetujui dibukanya Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China antara enam Negara yang ada di ASEAN. Meskipun kabar ini sudah ada sejak tahun 2002 yang lalu akan tetapi masyarakat tidak menduga akan dilaksanakan pada tahun 2010 mengingat keadaan perekonomian Indonesia yang masih belum stabil, serta pemerintah tidak mensosialisasikan kebijakan ini dngan maksimal, kurangnya sosialisasi dari pemerintah membuat pengusaha tidak memiliki persiapan yang matang untuk menghadapi produk china yang berkualitas.  Seharusnya pemerintah sudah gencar melakukan sosialisasi sejak dirancangnya kebijakan ini  melalui media massa dan elektronik supaya masyarakat dalam dunia ekonomi dapat mempersiapkan diri dengan baik.
 Indonesia harus membuka pasar dalam negeri secara luas kepada Negara-negara ASEAN dan China yang disebut ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA)  beranggotakan Indonesia, Thailand, malaysia, Singapura, Philipina, dan Brunei Darussalam tepat 1 Januari 2010. Karena Indonesia dipandang akan mendapatkan kesempatan lebih luas untuk memasuki pasar dalam negeri  di Negara-negara tersebut.
Pro-Kontra Pasar Bebas ASEAN-China
Pihak yang pro menyatakan ACFTA tidak hanya berarti ancaman serbuan produk-produk China ke Idonesia, akan tetapi juga sebagai peluang Indonesia untuk meningkatkan ekspor ke China dan negara-negara ASEAN. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menegaskan bahwa free trade agreement (FTA) memberikan banyak manfaat bagi ekspor dan penanaman modal di Indonesia. Kekhawatiran akan dampak negatif perdagangan bebas ASEAN-Cina juga ditepis Pemerintah melalui Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu. Menurut Abimanyu, proporsi perdagangan antara Indonesia, ASEAN dan Cina hanya 20% saja.
Sebaliknya pihak yang kontra, Ernovian G Ismy, Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia menyatakan kekhawatirannya atas pemberlakukan perdagangan bebas ASEAN-Cina, di antaranya terjadinya perubahan pola usaha yang ada dari pengusaha menjadi pedagang. Intinya, jika berdagang lebih menguntungkan karena faktor harga barang-barang impor yang lebih murah, akan banyak industri nasional dan lokal yang gulung tikar hingga akhirnya berpindah menjadi pedagang saja yang menjual produk china tersebut di Indonesia.
Ernovian mencontohkan, jumlah industri tekstil dari kelas industri kecil hingga besar bisa mencapai 2.000. Jika setiap industri tekstil mampu menyerap 12-50 orang tenaga kerja, maka bisa dibayangkan kehancuran industri karena akan banyak pengusaha yang beralih dari produsen tekstil menjadi pedagang. Hal ini sekaligus berdampak pada berkurangnya penyerapan tenaga kerja.
Hal yang sangat dikhawatirkan mengenai dominasi Cina terhadap Indonesia juga disampaikan Menteri Perindustrian MS Hidayat. Menurut Hidayat, dalam kerangka ACFTA yang berlatar belakang semangat bisnis, Cina bisa berbuat apa pun untuk mempengaruhi Indonesia mengingat kekuatan ekonominya jauh di atas Indonesia (Bisnis Indonesia, 9/1/2010).
 “ACFTA Bunuh diri ekonomi”
Sebelum adanya perjanjian perdagangan bebas dengan Cina saja, kita sudah mendapatkan hampir segala lini produk yang dipergunakan di rumah dan perkantoran bertuliskan Made in China. Bahkan tidak sedikit produk dari negara maju yang masuk ke Indonesia pun mengikutsertakan produk Cina sebagai perlengkapannya. Seorang ekonom yang juga pejabat menteri ekonomi di Kabinet Pemerintahan sekarang mengomentari bahwa dengan dimulainya perdagangan bebas Indonesia-Cina, serbuan produk Cina ke Indonesia akan “seperti air bah”.
Karena itu, pemberlakuan pasar bebas ASEAN-Cina sudah pasti menimbulkan dampak sangat negatif.
1.    Serbuan produk asing terutama dari Cina dapat mengakibatkan kehancuran sektor-sektor ekonomi dalam negeri yang diserbu. Padahal sebelum tahun 2009 saja Indonesia telah mengalami proses deindustrialisasi (penurunan industri).
2.    Pasar dalam negeri yang diserbu produk asing dengan kualitas dan harga yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau pedagang saja. Sebagai contoh, harga tekstil dan produk tekstik (TPT) China lebih murah antara 15% hingga 25%. Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat Usman, selisih 5% saja sudah membuat industri lokal kelabakan, apalagi perbedaannya yang sangat besar.
3.    Karakter perekomian dalam negeri akan semakin tidak mandiri dan lemah. Segalanya bergantung pada asing. Bahkan produk "tetek bengek" seperti jarum saja harus diimpor. Jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor, sedangkan sektor-sektor vital ekonomi dalam negeri juga sudah dirambah dan dikuasai asing, maka apalagi yang bisa diharapkan dari kekuatan ekonomi Indonesia?
4.    Jika di dalam negeri saja kalah bersaing, bagaimana mungkin produk-produk Indonesia memiliki kemampuan hebat bersaing di pasar ASEAN dan Cina? Data menunjukkan bahwa tren pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke Cina sejak 2004 hingga 2008 hanya 24,95%, sedangkan tren pertumbuhan ekspor Cina ke Indonesia mencapai 35,09%. Kalaupun ekspor Indonesia bisa digenjot, yang sangat mungkin berkembang adalah ekspor bahan mentah, bukannya hasil olahan yang memiliki nilai tambah seperti ekspor hasil industri. Pola ini malah sangat digemari oleh Cina yang memang sedang "haus" bahan mentah dan sumber energi untuk menggerakkan ekonominya. Dan Indonesia akan menjadi importer produk sendiri.
5.    Peranan produksi terutama sektor industri manufaktur dan IKM dalam pasar nasional akan terpangkas dan digantikan impor. Dampaknya, ketersediaan lapangan kerja semakin menurun. Padahal setiap tahun angkatan kerja baru bertambah lebih dari 2 juta orang, sementara pada periode Agustus 2009 saja jumlah pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 8,96 juta orang.
ACFTA Menurut Islam
Islam sangat memperhatikan kesejahteraan manusia  dengan mengatur segala aspek kehidupan terutama dalam bidang perekonomian. Islam menyarankan umat manusia untuk beribadah kepada Allah SWT tanpa mengabaikan kehidupan di dunia. Dan sebaik-baik mata pencarian adalah melalui jalur perdagangan,  sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadist Rasulullah SAW.
Pada prinsipnya, islam tidak mengharamkan adanya persaingan bebas antar Negara  manapun, seperti yang pernah terjadi pada zaman khalifah umar bin khotob, dimana masing-masing Negara sepakat untuk tidak membebankan bea cukai barang yang masuk ke wilayah kekuasaannya. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan besar bagi kita semua adalah apakah Negara Indonesia sudah benar-benar siap untuk menghadapi situasi ini ? Kita perhatikan pada zaman umar dulu keadaan perekonomian sendiri dalam keadaan stabil, serta para pengusaha pribumi bisa bersaing secara sehat dengan pengusaha luar. Sehingga walaupun demikian  masyarakat hidup sejahtera dibawah kepemimpinan beliau. Berbeda dengan situasi perekonomian Indonesia saat ini yang jauh dari stabil, dengan disepakatinya perjanjian ini justru menghancurkan perekonomian rakyat, hal ini disebabkan para pengusaha kita belum mampu bersaing dengan produk china yang lebih murah dan berkualitas akibatnya banyak pengusaha yang bankrut serta menyebabkan banyaknya pengangguran, dan secara tidak langsung akan berdampak juga terhadap kemiskinan dan tingkat kriminalitas yang makin bertambah.
Ini merupakan fenomena yang terjadi di Negara kita, kita perhatikan kebijakan ini lebih banyak mudharatnya dibanding manfaat yang akan kita peroleh. Dan islam sendiri membolehkan tidak mengambil manfaat supaya terhindar dari mudhorot yang lebih besar. Disini pemerintah memiliki tanggung jawab dan peran yang sangat penting dalam mengambil kebijakan ekonomi untuk mensejahterakan negaranya. Sebagaimana sabda rasulullah :
Pemimpin (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan mereka (HR Muslim).
Solusi yang harus diberikan dengan adanya ACFTA adalah bagaimana pemerintah Indonesia memberikan stimulus-stimulus kepada pedagang lokal agar tidak putus asa dalam menyikapi adanya ACFTA ini.Pedagang-pedagang lokal juga harus menciptakan produk-produk yang lebih inovatif dan kreatif yang dapat menyaingi adanya produk China. Pemerintah juga harus kembali menggalakkan semboyan AKU CINTA PRODUK NASIONAL”. Wallahu A’lam Bisshowab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar