Senin, 04 Oktober 2010

GWM 8 % Akan Tingkatkan Performen Perbankan

E-mail Print PDF
Jakarta, (4/10). Untuk mengurangi likuiditas pasar serta mendorong tekanan inflasi— Bank Indonesia (BI) mulai tahun 2010 mengeluarkan kebijakan ketentuan baru dimana Giro Wajib Minimum (GWM) Primer Naik Jadi 8% dan Loan to Deposit Ratio (LDR) dibatasi 78-100%. Kebijakan GWM tersebut diprediksikan akan memicu kenaikan suku bunga perbankan, selain itu juga perbankan yang memiliki kinerja buruk akan mengalami rasa was-was jika tak mampu memenuhi ketentuan tersebut akan kena pinalti BI.

Langkah BI mengeluarkan kebijakan itu sebagai antipasi dan tak mau beresiko lagi terjadi ketidakpercayaan masyarakat terhadap dunia perbankan. Lebih-lebih “hantu”krisis keuangan sering kali menerpa negeri ini. Untuk menjaga stabilitas monetar, BI perlu membuat kebijakan yang keras dalam bentuk GWM dengan demikian kridibilitas perbankan nasional semakin kuat.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengingatkan BI pernah membuat kebijakan menurunkan GWM pada saat krisis 2008 lalu dengan maksud menambah likuiditas di pasar. Karena pada saat krisis, perbankan mengalami krisis kepercayaan.

Pada saat itu, Darmin mengatakan pemerintah juga memindahkan dana dari Bank Indonesia ke tiga bank BUMN namun saat ini likuiditas pasar sudah teramat besar. "Sehingga apa yang dilakukan sekarang adalah, mengurangi likuiditas yang sudah berlebih tersebut," ujarnya.

Meski GWM dinaikkan, ia juga mengatakan BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 6,5 persen agar pertumbuhan kredit dapat terus meningkat serta mewaspadai adanya potensi inflasi. Ia juga tak ingin dengan adanya kenaikan GWM tersebut suku bunga perbankan melejit tinggi sehingga akses masyarakat dalam menggerakkan sektor riil semakin terhambat.

BI berharap dengan adanya kenaikan GWM tersebut penyaluran kredit semakin besar dan hal ini nampak pada realisasi kredit yang sudah sampai mencapi 24 persen. Dengan likuiditas yang tinggi Darmin mengaku mampu tersalur kredit sebesar 35-45 persen

"Tahun depan kami akan dorong dengan kebijakan LDR dan GWM, sehingga kredit bisa 35-45 persen, karena likuiditas perbankan saat ini masih cukup," ujarnya.

GWM--merupakan dana simpanan wajib suatu Bank di BI, selama ini GWM perbankan yang disimpan di BI dibawah 8 persen. Jika dalam ketentuan itu bank tak mampu menyetorkan GWMnya sebesarnya 8 persen maka dalam ketentuan BI bank akan dikenakan GWM tambahan sebesar 0,1 % dari setiap kekurangan 1 %. Dengan demikian bank akan bekerja secara maksimal kinerjanya dalam menempatkan fungsinya sebagai intermediasi.

Selain dari sisi kinerja, kenaikan GWM awalnya agar perbankan mau memperbesar portofolio kredit mereka, dengan tujuan lebih menggerakkan sektor riil. Namun karena perbankan merasa tidak bisa begitu saja menaikkan secara drastis portofolio kredit mereka, sedangkan beban untuk GWM sudah meningkat dapat menyebabkan perbankan dengan rasio LDR dibawah/diatas ketentuan menaikkan suku bunga kredit untuk membayar biaya tersebut.

“Hal ini yang menjadi alasan mengapa BI mengeluarkan aturan tersebut,”papar Darmin Nasution.

Sementara, praktisi perbankan dari Bank Syariah Mandiri (BSM) Hanawijaya— sangat menyambut baik atas kebijakan menaikkan GWM tersebut dengan demikian perbankannya akan lebih bersemangat dalam menyalurkan pembiayaan, meski demikian ia tetap menyarankan pada BI agar berhati-hati dalam menerapkan kebijakan tersebut untuk itu penekanan risk management dalam setiap penyaluran pembiayaan menjadi penilaian tersendiri.

“BSM sendiri dalam hal ini telah melakukan strategi prudent dalam setiap penyaluran pembiayaan meskipun LDR-nya saat ini juga besar,”paparnya.

Agar perbankan tak mengalami rasa kekhawatiran, Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman D Hadad mengatakan, BI akan menerapkan pola insentif-disinsentif untuk mendorong intermediasi bank melalui aturan giro wajib minimum (GWM) yang dikaitkan dengan rasio kredit terhadap dana (loan to deposit ratio/LDR).

Bank dengan LDR yang lebih tinggi akan dikenai GWM yang lebih rendah dan sebaliknya. GWM yang rendah menguntungkan bank karena lebih banyak dana yang bisa diputar untuk meraih keuntungan. Insentif untuk mendorong intermediasi diperlukan karena pertumbuhan kredit sepanjang 2009 amat rendah. Bahkan, pertumbuhan kredit setahunan (year on year/YOY) hanya 10,6 persen, jauh di bawah 2008 yang mencapai 30 persen. (Agus Y)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar