Senin, 29 November 2010

Buletin Edisi 59

Perdagangan Indonesia Setelah CAFTA dan Pandangan Islam 

Oleh : Ahmad Nashruddin

Perdagangan Internasional merupakan salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi suatu negara. Saat ini konsep liberalisasi telah menyelimuti perdagangan internasional yang dihadapi oleh masyarakat internasional termasuk Indonesia di dalamnya. 

Semenjak pemberlakuan China-ASEAN Free Trade Area per Januari 2010, Indonesia siap maupun tidak siap harus menghadapi arus serbuan produk-produk luar negeri. Produsen dalam negeri yang selalu menjadi “aktor utama” harus bersaing dengan “pendatang-pendatang baru” untuk menguasai pasar sekarang. Hal ini juga berimplikasi pada harga relatif produk ekspor Indonesia akan berubah, yang dapat memacu investasi asing masuk untuk menggerakkan roda perekonomian kita.

Di sisi lain, menurut Chapra (2000) di Indonesia sendiri momentum kebangkitan sebuah sistem ekonomi telah datang pada waktunya. Sistem yang tidak mengalami guncangan pada saat krisis melanda, sistem yang telah mendunia dan menjadi sorotan berbagai ekonom dunia saat ini, yaitu ekonomi Islam. Dua kondisi yang sedang mengalami masanya ini, secara langsung berhubungan satu sama lain. Lantas bagaimanakah ekonomi Islam memberikan pandangan terhadap kondisi perekonomian Indonesia saat ini? 

Kondisi Perekonomian Indonesia Setelah C-AFTA
Digambarkan oleh Kementerian Perdagangan Indonesia melalui trade monitoring-nya[1], ekspor Indonesia selama Januari-Juli 2010 telah berhasil mencapai angka US$ 85 miliar atau naik sebesar 42,3% dibandingkan periode yang sama tahun 2009. Membaiknya kinerja ekspor pada periode tersebut mengindikasikan sustainability yang kuat dari pemulihan ekspor Indonesia hingga akhir 2010 sebagai refleksi dari proses pemulihan perekonomian dunia. Namun yang perlu dianalisa lagi adalah adanya kenaikan pula pada sisi  impor. Kenaikan impor ini lebih dipicu oleh tingginya permintaan barang modal dan bahan baku/penolong untuk kebutuhan industri dan realisasi investasi di dalam negeri. Selama bulan Agustus 2010, neraca perdagangan kembali surplus, sebesar US$ 1,5 miliar setelah di bulan sebelumnya mengalami defisit.

Selain adanya kenaikan impor yang mencakup hingga 80 produk berbanding dengan ekspor yang mengalami kenaikan hanya pada 55 produk, ditambahkan lagi menurut Bank Dunia[2], pada triwulan 2/2010, pertumbuhan impor barang-barang dan jasa riil di Indonesia terus meningkat lebih cepat dari pertumbuhan ekspor. Meskipun permintaan impor telah didukung oleh kegiatan ekonomi dalam negeri yang kuat maupun dan penguatan nilai Rupiah maupun devisa negara, peningkatan impor riil yang lebih cepat menyebabkan permintaan eksternal bersih mengurangi persentase dari pertumbuhan PDB 0.1 poin pada triwulan 2.

Yang perlu digarisbawahi lagi adalah semakin tingginya impor Indonesia dari China akibat ACFTA tersebut, hal ini menyebabkan ketergantungan Indonesia terhadap produk China semakin mantap menggantikan penguasa terdahulunya yaitu produk Jepang dan Amerika Serikat. Pengurangan hingga pembebasan tarif yang diberlakukan menjadi polemik ganda bagi produsen dalam negeri untuk bersaing dengan produk-produk luar negeri seperti China. 

Tinjauan Ekonomi Islam
Ekonomi Islam sebagai suatu sistem yang mengatur seluruh aspek kehidupan, juga memiliki pandangan terhadap konsep perdagangan bebas. Meskipun di Indonesia bukan negara Islam, tetapi dari penjelasan berikut, penulis ingin memaparkan sebuah alternatif solusi dari ekonomi Islam terhadap permasalahan tersebut. Akan penulis uraikan pemikiran dua ekonom Muslim terkenal yang memiliki pemikiran perihal perdagangan ini. 

Ibnu Khaldun, Tenaga Kerja Kuncinya
Menurut penjelasan Karim (2004), Ibnu khaldun dalam karyanya “Muqaddimah” menerangkan bahwa pembagian kerja Internasional tidak didasarkan kepada sumber daya alam negeri-negeri tersebut, tetapi didasarkan pada keterampilan penduduknya, karena baginya tenaga kerja adalah faktor produksi yang paling penting. Dan hambatan satu-satunya bagi pembangunan adalah kurangnya persediaan tenaga kerja yang terampil

Hal ini memberikan sebuah masukan untuk pemerintah Indonesia bagaimana menghadapi CAFTA dengan memperbanyak pemberdayaan masyarakat, yaitu memberikan pelatihan-pelatihan kewirausahaan yang baik, maupun menstimulus mereka dengan memberikan subsidi langsung kepada produsen dalam negeri agar dapat bersaing dengan lainnya. Subsidi ini menurut Boediono (1981) merupakan cara terbaik yang dapat dilakukan pemerintah dalam kaitannya dengan proteksi dari efek perdagangan bebas.

Abu Ubaid, Ada Batas Tertentu Untuk Tarif
Menurut Abu Ubaid dalam kitab Al-Amwalnya, tidak semua barang dagangan dipungut cukainya. Ada batas-batas tertentu di mana kalau kurang dari batas tersebut, maka cukai tidak akan dipungut. Yaitu, pada setiap dua puluh dinar mesti dikenakan cukai sebanyak satu dinar. Apabila kadarnya kurang dari jumlah tersebut, maka hitunglah dengan kadar kekurangannya, sehingga ia mencapai sepuluh dinar. Apabila barang dagangannya kurang dari sepertiga dinar, maka janganlah engkau memungut apapun darinya. Kemudian buatkanlah surat pembayaran cukai kepada mereka bahwa pengumpulan cukai akan tetap diberlakukan sehingga sampai satu tahun.

Dari penjelasan Abu Ubaid di atas, memberikan sebuah rekomendasi yaitu biaya tarif yang dikenakan untuk negara pengekspor ke Indonesia harus diatur sesuai porsinya. Jangan mutlak dibebaskan sepenuhnya atau dipukul rata semuanya, harus sesuai dengan kuantitas barangnya. Dan pengaturan tarif ini bisa meredam masuknya barang impor yang diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang semakin cepat daripada pertumbuhan ekspor yang mandeg. 

Kondisi perekonomian Indonesia yang sedang bergejolak saat ini dapat digambarkan pada alur perdagangan Internasional sebagai sorotan atas pemberlakuan CAFTA. CAFTA memberikan pengaruh sebagai penghambat maupun peluang Indonesia ke depan, namun yang dirasakan saat ini CAFTA memberikan lebih banyak hambatan kepada perekonomian Indonesia. Dilihat dari adanya pertumbuhan impor yang cepat, maupun ketergantungan terhadap produk luar negeri terhadap produk dalam negeri yang lambat laun dapat menimbulkan matinya sektor produsen dalam negeri yang cukup besar. 

Pandangan ekonomi Islam terhadap kondisi tersebut diberikan sebagai alternatif solusi yang dapat dilakukan pemerintah Indonesia agar dapat mengerem arus kencang dari CAFTA tersebut. Dengan pemberdayaan masyarakat dan pengaturan kembali biaya tarif sesuai porsinya dapat menjadikan kondisi perekonomian jauh lebih baik lagi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar