Senin, 29 November 2010

Indeks Saham Syariah Segera Hadir

REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI--Organisasi Konferensi Islam (OKI) berencana menerbitkan indek saham syariah dari saham-saham yang diterbitkan negara-negara anggota mereka. Penerbitan indek saham syariah tersebut bertujuan untuk memacu investasi ke-57 negara anggota OKI.

Guna mewujudkan rencananya tersebut, OKI yang bermarkas di Jeddah menyewa perusahaan konsultan Standard & Poor yang akan memulai kerjanya pada awal tahun 2011. Koordinator Program Penyusunan Indek Saham Syariah OKI, Huseyin Erkan, mengatakan, Standard & Poor akan memilah-milah 50 saham aktif yang diperdagangkan pada kuartal pertama 2011. Kemudian, disusunlah indek saham syariah yang bersih dari investasi di bidang alkohol, judi, dan tembakau.

“Harapannya, indek ini akan meningkatkan investasi syariah di pasar modal,” ujar Huseyin yang juga Direktur Utama Bursa Efek Istanbul-Turki, pekan lalu. Dia melanjutkan, penerbitan indek saham syariah dilatarbelakangi permintaan negara-negara Muslim yang menginginkan adanya fasilitas pasar modal global untuk mengakomodasi perdagangan saham antarnegara. Selam ini, belum ada fasilitas yang bisa membedakan antara saham syariah dan saham nonsyariah. “Dan cara paling mudah dan efisien untuk memfasilitasi keinginan tersebut adalah membuat indek saham syariah,” imbuh Huseyin.

OKI yang beranggotakan Uni Emirat Arab, Indonesia, Pakistan, dan negara-negara Muslim lainnya, merupakan organisasi terbesar kedua di dunia setelah Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Melalui situs resminya, OKI menyatakan, saat ini mereka tengah mencari cara memaksimalkan peluang pasar bebas dengan menyatukan kekuatan ekonomi Islam. Langkah itu bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan 1,4 miliar penduduk yang menjadi anggotanya.

Ernst & Young dalam laporannya tentang Islamic Funds & Investment, menyatakan, nilai aset syariah di dunia saat ini mencapai 52,4 miliar dolar AS. Nilai aset tersebut berasal dari saham-saham syariah yang diterbitkan perusahaan-perusahaan dan negara-negara di Timur Tengah dan Asia. “Saham-saham syariah itu sangat diminati,” kata Huseyin. Petinggi Templeton Asset Management Ltd, Mark Mobius, mengatakan, mereka adalah salah satu ‘peminat besar’ dari saham-saham dan industri keuangan syariah yang mempunyai potensi lebih dari 480 miliar dolar AS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar