Sabtu, 08 Januari 2011

Asuransi Syariah Pasti Tumbuh Besar


Isa Rachmawarta-Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK

Jumlah pelaku bisnis di asuransi syariah  bukan menjadi ukuran dari keberhasilan sektor industri asuransi syariah di Indonesia. Menurut penilaian Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK, ada perbedaan tersendiri cara pandang antara asuransi syariah dan konvensional. Apa itu?
Berkembangnya perbankan syariah di Indonesia telah mendorong berdirinya lembaga keuangan syariah (LKS), seperti asuransi syariah dan lembaga lainnya. Menurut Biro Perasuransian Bapepam-LK saat ini telah berdiri 45 lembaga asuransi syariah yang terdiri dari 42 perusahaan  asuransi syariah dan 3 perusahaan re-asuransi syariah. Hadirnya perusahaan asuransi syariah yang ada selama ini—dirasakan masih kurang agresif dalam mengejar segmentasi pasar yang ada selama ini.

Hal ini nampak,  apabila dibandingkan dengan asuransi konvensional share market asuransi syariah hanya sebesar 1 persen. Meski baru tumbuh kecil, hal itu tak mengurangi semangat pemerintah untuk terus mendorong agar asuransi syariah tumbuh dengan pesat. Isa Rachmawarta selaku  Kepala Biro Perasuransian Bapepam – LK senantiasa membuat kebijakan-kebijakan yang memberikan dorongan agar asuransi syariah cepat tumbuh dan menjadi perusahaan yang berkembang pesat.

Saat ditemui oleh info pkes, dia mengatakan bahwa jumlah pelaku bisnis di asuransi syariah  tidak menjadi ukuran dari keberhasilan sektor industri asuransi syariah di Indonesia. Menurut penilaiannya ada perbedaan tersendiri cara pandang antara asuransi syariah dan konvensional.

“Secara prinsip memang sangat berbeda antara asuransi syariah dan konvensioanal, di asuransi syariah prinsip-prinsip syariah sangat jelas,” ungkapnya.

Di asuransi syariah, kata Isa, para peserta      asuransi  melakukan  tolong-menolong diantara mereka. Maka dari itu, di asuransi syariah setiap perusahaan harus memperbanyak pool (keanggotaan asuransi). Bagi asuransi yang memiliki jumlah keanggotaan yang banyak maka secara otomatis harga premi yang ditawarkan sangat murah dan sebaliknya jika jumlah keanggotaannya sedikit perusahaan asuransi syariah akan memberikan beban yang besar bagi perusahan dalam menanggung biaya premi. Itu yang terjadi selama ini.

Untuk itu  dalam perspekstifnya, dia mengatakan bahwa ukuran besar kecilnya pertumbuhan asuransi syariah di Indonesia tak bisa dilihat dalam kaca mata jumlah perusahaan asuransi tapi sejauh mana perusahaan asuransi syariah yang ada selama ini mampu mengumpulkan pool  yang banyak. Berdasarkan penilaiannya selama ini, tak semua asuransi syariah yang ada selama ini  memiliki pool yang sama. “Ada yang banyak dan ada yang sedikit. Jika pool-nya  banyak akan mengurangi resiko dan sebaliknya jika poolnya kecil akan memperbanyak resiko. Itulah kondisi asuransi syariah yang ada selama ini,” ungkap Isa.

Dengan fenomena perusahaan asuransi syariah yang masih kecil, banyak perusahaan asuransi yang mencoba menahan diri  dengan  tidak  agresif  dalam menjual produk-produknya.   Meski faktanya demikian, pemerintah terus mengupayakan agar semua asuransi syariah bisa memiliki keanggotaan peserta yang lebih banyak sehingga bisnis asuransi syariah bisa maju dengan pesat.  Diantaranya dengan penyehatan pengoperasian asuransi syariah.

Pemisahan Dana Tabarru

Isa menambahkan, penyehatan  bisnis di asuransi syariah memang sangat penting hal ini untuk mendorong kepercayaan konsumen pada asuransi syariah selama ini. Diantaranya penyamaan Risk Based Capital (RBC) antara konvensional dan syariah serta kedepannya, transparansi laporan kesehatan kinerja  dan ada upaya pemisahan  laporan keuangan antara dana tabaru dan dana  perusahaan. 

Pemisahan dana tabarru tersebut menurut Isa dengan optimis akan memperlihatkan perusahan asuransi syariah mana yang memiliki kinerja baik dan memiliki jumlah anggota yang besar. Selama ini dalam pelaporan kinerja keuangan masih disatukan antara dana tabarru dan dana perusahaan sehingga perusahaan asuransi syariah tersebut aman.

“Tapi untuk memberikan kepercayaan para konsumen sudah saatnya dalam pelaporan kinerja dipisahkan antara dana perusahaan dengan dana  tabarru,” tutur Isa.

Ia menyadari jika regulasi itu bisa diterapkan yang terjadi adalah ada beberapa asuransi syariah yang mengembalikan izinnya karena tak mampu berproduksi dengan baik. Jika  ini  terjadi, asuransi syariah yang memiliki pool kecil akan bergabung dengan asuransi syariah yang memilki pool yang besar.
Selain mendorong  tumbuhnya asuransi syariah berkembang pesat dari sisi regulasi,  kata Isa, pemerintah juga berharap pada  perusahaan asuransi syariah untuk memperbaiki manajemen sumber daya manusia (SDM). Isa tak ingin bahwa pengelola asuransi syariah adalah orang konvensional sehingga dalam mengoperasikan manajemen asuransi syariah diperlakukan sama dengan asuransi konvensional. Hal ini menurutnya akan mengurangi esensi dari prinsip-prinsip dalam mengelola asuransi syariah selama ini.  Terkait pengembangan SDM tersebut, saat ini pemerintah berkerjasama dengan industri asuransi dan asosiasi dalam mengelola pengembangan SDM yang ada sehingga SDM di asuransi syariah bisa profesional dan tak menyalahi aturan-aturan syariah.
“Ini sudah berjalan dan mereka asosiasi bahkan membuat sertifikasi bagi para agen asuransi syariah itu juga salah satu lompatan yang cukup besar dalam perkembangan asuransi syariah yang ada selama ini,” terangnya. (Gus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar