Minggu, 06 November 2011

Corporate Social Responsibility

Kemarin, pada tanggal 3 November Progres mengadakan kajian mingguan rutin, kali ini temanya Corporate Social Responsibility (CSR) yang dipandu oleh saudara Khoiron Anshori dan narasumber yaitu, Bapak Sanrego ,seorang dosen STEI TAZKIA.
Pada awalnya Bapak Sanrego membuka diskusi ini dengan sejarah bagaimana bisa adanya isu CSR. Di dunia ini banyak sekali perusahaan besar dengan model saham terbuka. Maksudnya banyak pemegang saham dalam perusahaan. Dewan direksi yang merupakan pengelola dari perusahaan tersebut, tidak memiliki saham tetapi memiliki tugas untuk menyenangkan hati para pemegang saham tersebut. Intinya para pemegang saham ingin mendapat untung dengan melihat laporan keuangan perusahaan dan para dewan direksi juga mau mendapat bonus dari hasil kerjanya dan tidak mau dipecat dari perusahaan jika perusahaan mengalami kerugian. Tentunya, para dewan direksi melakukan segala cara untuk mengeruk keuntungan agar para pemegang saham senang, tetapi mereka melupakan social dan lingkungan sekitar perusahaan tersebut. 
Beliau mengambil contoh, peristiwa micro finance di Bangladesh. Kasusnya adalah seorang ibu yang sukses dengan usahanya, tetapi dia malah melupakan kodratnya sebagai seorang ibu ataupun istri, sehingga terjadi perceraian. Maka itu, beliau mengungkapkan untuk apa PDB suatu Negara tinggi, tetapi sosialnya tidak ada, tingkat perceraian juga tinggi.
Lalu, contoh di dalam negeri yaitu air minum Aqua dari perusahaan Danone. Pernahkah kita berpikir air yang kita minum itu memiliki dampak lingkungan yang besar? Seperti, ke mana arah limbah kimia yang digunakan Aqua dibuang? Aqua tentunya untuk mengambil air jernih, mereka mengeruk dari suatu daerah, dan jika sudah kering, mereka mencari daerah yang lain lagi. 
Setelah banyak peristiwa yang mengungkapkan fakta, bahwa perusahaan tidak memperdulikan social lingkungannya, maka lahirlah isu CSR. CSR memiliki 3 komponen penting, yaitu :
1. Profit  tentu saja semua perusahaan menginginkan untung
2. People  social ke masyarakat sekitar perusahaan
3. Planet  peduli lingkungan

Tidak semua perusahaan menerapkan CSR sepenuhnya. Maksudnya apa?
Bisa kita ambil contoh Aqua, mereka mengadakan program irigasi air bersih. Begitu juga dengan PT Djarum yang memberikan beasiswa. Sekilas terlihat, perusahaan tersebut beritikad baik, tetapi dalam kenyataannya yang mereka perbuat itu lebih parah dampaknya bagi sosial masyarakat dan lingkungan.
Ada kasus lain, yaitu PT Newmont di NTB. Sebuah perusahaan tambang yang besar, mereka menggali pertambangan, lalu hasil galian tersebut dijadikan danau buatan, sebagai bentuk CSR-planet.

Pada pandangan Islam sendiri, Islam tidak mengenal CSR, karena dalam Islam itu sendiri telah mengatur itikad-itikad yang harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan. Jadi, Islam sudah sejak lama mengatur itu semua, tidak perlu menunggu peristiwa yang menyadarkan kita akan pentingnya lingkungan. 

Anggaran CSR itu sendiri hanyalah 2-3% dari keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan. Bisa apa dengan nilai kisaran itu membantu dan peduli lingkungan yang telah perusahaan perbuat? Maka itu, CSR hanyalah basa-basi semata untuk menyenangkan hati masyarakat luas.
Jadi menurut saya, jika semua perusahaan menerapkan apa yang telah Allah atur, tentunya tidak akan terjadi peristiwa yang menyengsarakan masyarakat banyak, karena perusahaan bertanggung jawab atas apa yang mereka perbuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar