Minggu, 27 November 2011

Kajian Bulanan KAFoSSEI “Indonesian Islamic Economic & Finance Outlook”

SALAM EKONOM RABBANI!
Kajian Bulanan Korps Alumni Forum Silaturrahmi StudiEkonomi Islam (KA FoSSEI) bulan ini diadakan di STEI Tazkia pada tanggal 26 November 2011, bertemakan “Indonesian Islamic Economic & Finance Outlook”. Kajian ini berisi bagaimana sebenarnya potret ekonomi syariah di Indonesia sepanjang tahun 2011 serta proyeksinya tahun 2012. Sejak kemunculan Bank Muamalat tahun 1992, geliat industri keuangan syariah di Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pakar Ekonomi Syariah, Adiwarman A. Karim menyebutkan bahwa berdasarkan Islamic Finance Country Index dalam Global Islamic Finance Report 2011, Indonesia menempati peringkat pertama di antara negara-negara non-islamdan peringkat keempat di antara seluruh negara. Secara keseluruhan, Iran menempati peringkat pertama diikuti Malaysia dan Arab Saudi di peringkat kedua dan ketiga. (Republika, 10 Oktober 2011). Terdapat instrumen lain seperti ZISWAF (Zakat, Infaq, Sadaqah, Wakaf) yang menarik untuk dikaji perkembangannya agar terjadi sebuah sinergi untuk mencapai tujuan kemaslahatan ummat.
Acara yang dipandu oleh Sebastian Herman ini diawali dengan pembacaan tilawah oleh Abdul Hamid Syarif, kemudian diikuti sambutan oleh STEI Tazkia selaku penyelenggara acara yang diwakili oleh pak Andang Heryahya, dilanjutkan sambutan dari KA FoSSEI oleh Ketua KA FoSSEI, Bapak Alfi Wijaya.
Menuju acara utama, dibuka oleh moderator, Ahmad Nashruddin yang membacakan curriculum vitae kedua narasumber, Rifki Ismal, Ph.D (DPBs Bank Indonesia) dan Irfan Syauqi Beik, Ph.D (Ketua Program Studi Ekonomi Syariah FEM IPB).


Bapak Rifki Ismal, Ph. D adalah seorang Peneliti Bank Senior di Bank Indonesia (1998-sekarang). Beliau telah menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1992), melanjutkan S2 di Fakultas Ekonomi University of Michigan, dan S3 di Jurusan Islamic Banking and Finance Durham University (2007). Pria kelahiran Bogor, 6 November 1973 ini juga merupakan dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1997-sekarang) dan Dosen Tamu di University of Strasbrough (France).

Bapak Irfan Syauqi Beik, Ph. D adalah Ketua Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi Manajemen Institut Pertanian Bogor. Beliau telah menyelesaikan pendidikan S1 jurusan Agribisnis di Institut Pertanian Bogor, melanjutkan S2 di International Islamic University Islamabad, dan menyelesaikan studi S3 jurusan Ekonomi Islam di International Islamic University Malaysia. Pria kelahiran Bogor, 22 April 1979 juga merupakan Sekretaris Eksekutif Pusat Studi Bisnis & Ekonomi Syariah IPB, Ketua Redaksi Iqtishodia Harian Republika, Staf Ahli BAZNAS bidang Riset dan Kerjasama Luar Negeri, Anggota Executive Board World Zakat Forum, dan Ketua DPP IAEI 2011-2015.

Bapak Rifqi Ismal membuka diskusi ini dengan menarik, sebagai ekonom robbani membuat kita menjadi lebih bersemangat karena begitu banyak tantangan dan harapan besar pada perbankan syariah Indonesia. Diskusi ini memiliki empat outline, Kinerja Terkini dan Outlook Industri Perbankan Syariah Indonesia, Mainstream Bank Syariah Indonesia dan Tiga Model Bank Syariah,
Faktor Pendorong Perkembangan Bank Syariah Indonesia, dan Issu Terkini: Qardh untuk Gadai Emas.

Pak Rifki mengajak peserta mengulang waktu di mana Indonesia baru memulai perjuangan menapaki perbankan syariah pada pemerintahan Presiden Soeharto. Pada tahun 1991, muncul bank syariah pertama, yang dikenal Bank Muamalat Indonesia. Berdasarkan BMB Islamic index yang disebut Islamic Finance Country Index (IFCI) menerbitkan Global Islamic Finance Report (GIFR) in 2011, Indonesia sebagai peringkat keempat setelah Iran, Malaysia and Arab Saudi  berkaitan dengan perkembangan keuangan Islam.
Dua dasawarsa terakhir, semenjak kemunculan bank syariah pertama di Indonesia, perbankan syariah Indonesia berkembang sangat cepat. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya bank-bank syariah yang ada saat ini. Tercatat pada September 2011, terdapat 11 bank usaha syariah, 23 unit usaha syariah, dan 154 bank pembiayaan rakyat syariah.
Perbankan syariah Indonesia paling pesat pertumbuhannya yaitu 38% dibandingkan dengan pertumbuhan perbankan syariah dunia yang berkisar 10%. Perbankan syariah Indonesia menyalurkan dananya ke sektor riil sebanyak 101%, dengan 77% dana ke unit kecil dan menengah. Telah dibuktikan bahwa perbankan syariah benar-benar memutar dananya, tidak diendapkan.
Mainstream perbankan syariah saat ini, mengentaskan kemiskinan dengan cara mengangkat rakyat kecil menjadi menengah dengan melakukan pembiayaan. Bank syariah di Indonesia melakukan kerja sama dengan bank konvensional, tidak menganggap sebagai kompetitor. Mereka seperti hidup berdampingan, yang bisa dibuktikan dengan adanya ATM bersama.
Perbankan syariah saat ini masih banyak tantangan untuk menjadi sistem perekonomian Indonesia. Bank syariah belum menjadi kepentingan isu nasional, tidak seperti Malaysia yang telah didukung oleh pemerintahnya secara penuh, misalnya pada tabungan haji yang dilakukan oleh bank-bank syariah. Maka itu, market share perbankan syariah pun masih berkisar single digit saja. Dana pemerintah Malaysia pun dikelola oleh bank syariah.
Pemahaman publik yang belum optimal juga merupakan tantangan ekonom robbani. Banyak nasabah yang berpikir menabung di bank konvensional akan memberikan keuntungan yang berupa bunga sehingga nasabah akan lebih tertarik dengan bank konvensional.
            Bagaimana menghadapi itu semua? Perlunya dukungan pemerintah, masyarakat sebagai SDM yang berkualitas. Dengan pemenuhan funding dan financing. Belum lagi, akan dicanangkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tentunya, akan banyak persiapan menghadapi itu semua. Kita memiliki banyak faktor pendukung untuk lebih memajukan perbankan syariah Indonesia, contoh kecilnya saja kita memiliki populasi muslim terbesar di dunia (88% dari penduduk Indonesia) yang merupakan sasaran dari bank-bank syariah.
Terdapat tiga model perbankan syariah di dunia, model ketiga dipraktekkan oleh Negara-negara Timur Tengah dan Malaysia dengan format operasi yaitu bank syariah berbasis kontrak indirect financing. Indonesia mempraktekkan model kedua dengan format operasi yaitu bank syariah berbasis kontrak trading. Sedangkan, model pertama merupakan bentuk yang ideal dan sesuai dengan konsep perbankan syariah yang diharapkan dengan format operasi yaitu bank syariah berbasis kontrak profit and loss sharing (PLS).
Kemudian, Bapak Rifqi Ismal membahas pula isu mengenai Gadai Emas (Rahn Emas). Progres sempat mengadakan kajian tentang rahn emas beberapa waktu lalu. Beliau menambahkan dengan antisipasi yang harus diwaspadai oleh bank-bank syariah di Indonesia. Rahn emas bukanlah aktivitas utama perbankan syariah dan sebaiknya dana qardh digunakan pada sektor riil dan bukanlah untuk berkebun emas. Qardh untuk rahn emas harus menghindari perilaku yang spekulatif (fluktuasi harga emas dan riba). Perlu digarisbawahi, bahwa semenjak maraknya gadai emas, tingkat murabahah pada perbankan syariah meningkat, sedangkan tingkat mudharabah ataupun musyarakah mengalami penurunan.

Dilanjutkan oleh Dr. Irfan Syauqi Beik yang berbicara mengenai zakat. Majunya perekonomian suatu negara, dapat dilihat dari keuangan Negara tersebut, perkembangan sector riil dan distribusi zakat. Setelah disahkannya UU Pengelolaan Zakat dalam sidang paripurna DPR pada tanggal 27 Oktober 2011 lalu telah menimbulkan debat publik yang sangat intensif, yang bermuara pada sejumlah isu krusial yang terdapat pada UU yang baru. Menurut Yusuf Wibisono, isu-isu tersebut antara lain sentralisasi pengelolaan zakat via BAZNAS, marjinalisasi peran LAZ (Lembaga Amil Zakat) bentukan masyarakat dan kekhawatiran akan “diberangusnya” LAZ melalui aturan persyaratan sebagai ormas, serta ketidakadilan alokasi dana APBN yang hanya diberikan pada BAZNAS.
Pertama, harus diakui bahwa kekhawatiran akan terjadinya marjinalisasi kekuatan masyarakat sipil, antara lain dipicu oleh Pasal 17 UU yang baru, dimana fungsi LAZ hanya untuk membantu BAZNAS. Kata “membantu” diartikan seolah-olah ada hubungan struktural vertikal antara LAZ dengan BAZNAS. Padahal jika kita telaah lebih dalam, pasal 17 tersebut tidak menegaskannya secara eksplisit, karena hubungan tersebut hanya ada pada BAZNAS pusat hingga daerah. Fungsi LAZ pun tetap sama, yaitu menghimpun dan menyalurkan zakat, serta membuat laporan pertanggungjawaban. Ditegaskan pula kewajiban LAZ untuk melaporkan kegiatan penghimpunan dan pendayagunaan zakat yang telah dilakukannya kepada BAZNAS (Pasal 19), dan bukan kewajiban untuk menyetorkan zakat kepada BAZNAS.
Yang diperlukan adalah peningkatan layanan masyarakat, baik masyarakat muzakki maupun mustahiq, yang antara lain membutuhkan ketersediaan jaringan kantor dan SDM yang mampu menjangkau setiap pelosok negeri ini. Namun, kadang yang terlihat di lapangan ialah saling bersaing antara BAZ dan LAZ. Seharusnya, satu dengan yang lain mengembangkan konsep ta’awwun dan fastabiqul khairat. Butuhnya back-up kekuasaan dalam pengelolaan zakat ini.
Perspektif  ketiga, terkait dengan pemberian dana APBN yang hanya untuk BAZNAS, dan bukan LAZ. Sebagian kalangan menganggap ini sebagai bentuk “ketidakadilan” dan ketidaksetaraan level of playing field. Sesungguhnya, jika melihat substansi amanat UU terhadap BAZNAS, maka suntikan dana APBN menjadi sebuah keniscayaan. Jika melihat dan membandingkan tugas BAZNAS dan LAZ, maka BAZNAS tidak hanya menghimpun dan menyalurkan zakat yang diperoleh dirinya sendiri layaknya LAZ, namun juga harus melakukan standarisasi pengelolaan zakat secara nasional, yang berlaku bagi seluruh organisasi pengelola zakat. Jika BAZNAS mendapat mata anggaran tersendiri dalam APBN, maka itu adalah sinyal keseriusan pemerintah dalam membangun sistem zakat nasional yang terintegrasi dengan pembangunan ekonomi secara keseluruhan.

Acara pun berlanjut ke sesi tanya jawab antara narasumber dan mahasiswa. Para mahasiswa bertanya dengan berbagai pertanyaan yang kritis dan menarik. Yang bertanya cukup banyak, namun dibatasi hanya untuk 5 orang. Para penanya yang beruntung juga mendapatkan doorprize menarik! Selamaat bagi para penanya yang mendapatkan doorprize.. :)
Acara berakhir jam 12 siang, ditutup dengan pembacaan doa oleh Sefri Primadani. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar. Meskipun ada beberapa kesalahan teknis, namun tidak menyurutkan niat para ekonom rabbani yang datang dari berbagai universitas dan teman-teman matrikulasi yang sudah rela berangkot-angkot ria di bawah teriknya matahari Bogor untuk mendapatkan ilmu Allah dari para ekonom handal demi kemajuan dan kemaslahatan umat ke depannya. Semoga ilmu yang didapat berkah dan semoga setiap langkah dan gerak kita untuk menuntut ilmu Allah ini selalu dimudahkan dan menjadi amal shalih yang tak terkira nilainya..
EKONOM RABBANI, BISA! PROGRES, CERIAAAA.. //^.^\\








kalau mau download materi kajian, klik disini

Kajian Bulanan KA-FoSSEI [26112011]                                                                                            


Tidak ada komentar:

Posting Komentar