Sabtu, 26 November 2011

Outlook Zakat Indonesia 2012 setelah UU Zakat 2011




Progres mengadakan kajian mingguan rutin yang diadakan pada tanggal 24 November 2011 yang berjudul “Outlook Zakat Indonesia 2012 setelah UU Zakat 2011”. Narasumber kali ini merupakan mahasiswa STEI TAZKIA, Ahmad Nashruddin yang lebih dikenal dengan panggilan Ka Boyo.
Zakat berarti mensucikan. Setelah meninggalnya Rasulullah, banyak orang yang meninggalkan kewajiban membayar zakat. Abu Bakar mengumumkan perang melawan mereka yang tidak mau membayar zakat. Di Indonesia sendiri UU zakat telah ada dalam UU No.38 tahun 1999 yang direvisi dalam UU tahun 2011 setelah pengesahan dilakukan dalam sidang paripurna DPR pada tanggal 27 Oktober 2011.


Undang-undang yang baru menyebutkan bahwa ditegaskan kewajiban LAZ untuk melaporkan kegiatan perhimpunan dan pendayagunaan zakat yang telah dilakukannya keada BAZNAS. Jika melihat dan membandingkan tugas BAZNAS dan LAZ, maka BAZNAS tidak hanya menghimpun dan menyalurkan zakat yang diperoleh dirinya sendiri laiknya LAZ, namun juga harus melakukan standarisasi pengelolaan zakat secara nasional, yang berlaku bagi seluruh organisasi pengelola zakat.
Masyarakat kadang masih berpikir zakat sama dengan pajak. Jadi, jika telah mengeluarkan pajak tentunya tidak perlu membayar zakat. Dan belum adanya transparansi zakat. Semua elemen harus berkontribusi dalam sosialisasi zakat. Karena dibutuhkan pemerintah sebagai kekuatan yang memback-up dalam pengelolaan zakat. Masyarakat tentunya sebagai muzakki ataupun mustahiq. Ekonom robbani, aktivis  ikut berperan dalam sosialisasi zakat agar masyarakat tidak salah kaprah dalam hal zakat tersebut.
                Pada kajian kali ini, perwakilan KSEI-KSEI se-Bogor dan Komisariat Bogor juga datang untuk berkunjung dan mengikuti kajian Progres kali ini. Kajian UU Zakat selanjutnya akan dilaksanakan di Universitas Ibnu Khaldun pada hari Senin, 28 November 2011 di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar