Sabtu, 24 Desember 2011

Lika Liku Perekonomian di Indonesia


Kajian kali ini lebih seperti diskusi terbuka yang dipimpin oleh kak Wahyu Heryawan, ketua T-Smart periode 2010-2011. Bahasan sore itu, tepatnya tanggal 22 Desember 2011 sungguh menarik yaitu “Lika Liku Perekonomian di Indonesia”.  Diawali dengan permintaan kak Wahyu untuk mengubah posisi tempat duduk dengan bentuk melingkar, sehingga pembicara dapat melihat jelas para pendengar dan lebih berinteraksi dengan pendengar.
Diskusi mulai memanas ketika ka Wahyu berbicara tentang alasan kegagalan ekonomi di Indonesia, yaitu : 1) assimilated information 2) Politik Monopoli. Kebutuhan public yang mendesak menyebabkan perusahaan yang bergerak di bidang tersebut, seperti air minum (aqua), gas, minyak, dll memonopoli barang-barang tersebut 3) Eksternalitas Perusahaan. liEksternalitas negatif, contoh : Pabrik yang terletak di jalan utama menyebabkan macet dan limbahnya tidak di kelola secara baik mengakibatkan aroma air yang tak sedap.


Kemudian para penonton mulai berargumen, mereka menambahkan yaitu, adanya moral hazard para ekonom Indonesia saat ini di dominasi oleh orang yang berorientasi pada materi semata dan pakar ekonomi masuk atau terjun di dunia ekonomi dengan sasaran politik sebagai latar belakangnya untuk mencari keuntungan semata. Pereknomian di penuhi orang kaya yang mengejar politik sehingga orang miskin tak dapat merasakan dampaknya.
Lalu, diskusi mengarah ke arah pengangguran dan kemisikinan yang juga diangkat oleh kak Wahyu, pengangguran di Indonesia atau orang miskin banyak dari petani, 38 % ada di petani. Kemiskinan terbanyak juga ada di petani. Pertanian banyak menyerap tenaga kerja, tapi tetap menjadi miskin. Pemerintah kurang berpihak pada petani. Pengangguran bukan indikasi miskinnya seseorang karena orang yang bekerja pun masih banayak yang miskin. Ini dikarenakan dana yang menjadi sumber kegiatan usaha masyarakat bersal dari bank pemerintah hanya  menjamin saja dan tiga sector besar yang memperoleh pembiayaan oleh bank ialah perhotelan, pertambangan, perdagangan. Pemerintah telah menggalakkan program OVOP (One Village One Product), dibantu dengan adanya penyuluhan tentang KUR ataupun informasi lainnya oleh pemerintah akan menambah motivasi kepada para petani yang saat ini agak lesu dalam pengembangan agrarisnya.
Pemerintah pun mengurangi impor hasil tani yang membuat para petani beralih pekerjaan dan mendampingi serta membantu petani dalam menciptakan produk unggulan yang tidak kalah saing dengan Negara lain. Jadi peranan pemerintah sangat penting, pemerintah diharapkan lebih memperhatikan sector pertanian dan sebagai masyarakat, kita harus aktif dalam mengawasi anggaran yang telah dikeluarkan oleh pemerintah dan swasta ikut dalam bekerjasama dalam pengembangan ekonomi. Gunakan produksi dalam negeri!!! Bangga dengan produksi dalam negeri!!!
EKONOM ROBBANI : BISA!!!
PROGRES : BE THE FIRST! BE THE BEST

Tidak ada komentar:

Posting Komentar