Sabtu, 17 Maret 2012

Analisis Maqashid Syariah dalam Kondisi Utang / Pinjaman Luar Negeri Indonesia


Kajian Intermediate hari Kmis, 15 Maret 2012  ini bertemakan Analisis Maqashid Syariah dalam Kondisi Utang / Pinjaman Luar Negeri Indonesia yang dibawakan oleh Irma Juanita (Prodi Akuntansi Islam '09 STEI Tazkia) dan Baiq Rosmala Dewi (Prodi Ekonomi Islam '09 STEI Tazkia)
Perhatian dunia kini tengah tertuju pada krisis ekonomi yang melanda negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Krisis yang ramai dibicarakan pada awal bulan September 2011 ini tidak dipungkiri telah memberikan kekhawatiran sendiri kepada para pelaku ekonomi khususnya di Financial Market. Salah satu penyebab krisis Eropa ini adalah karena penumpukan hutang luar negeri yang hampir dan bahkan melebihi tingkat GDP sehingga gagal bayar.  
Merujuk pada artikel yang dimuat di KORANDO (Koran Anak Indonesia, 9 Oktober 2011), krisis Eropa berawal dari negara Yunani yang merembet ke Irlandia dan Portugal dan sekarang ke Italia. Negara-negara tersebut memiliki hutang yang hampir sama dan bahkan lebih besar dari GDP-nya. Berawal dari Yunani yang pada tahun 1974 memasuki masa baru pemerintahan, dari junta militer menjadi sosialis, sehingga kekuasaan dipegang penuh oleh pemerintah. Pada masa pemerintahan baru inilah dimulainya pembangunan besar-besaran dengan cara berhutang untuk membiayai subsidi, gaji PNS, dll. Hutang tersebut terus mengalami peningkatan sampai akhirnya tahun 1993 hutang Yunani melebihi GDP-nya. Sampai saat ini, menurut data dari Zoneskis.com 26 September 2011menyebutkan bahwa rasio hutang Yunani mencapai 143% dari posisi GDP. Negara lainnya yaitu Italia 119%, Belgia 96,80%, Irlandia 96,20%, Portugal 93%, Islandia 87,80%, Sri Lanka 85%, Kanada 84%, Jerman 83,20%, dan Prancis 81,70%.


Melalui sumber yang sama, tampaknya pemerintah negara-negara Eropa tengah mengalami tekanan yang besar dalam mencari solusi krisis hutang luar negeri ini. Carl Weinberg, seorang ekonom di High Frequency Economics bahkan mengatakan “Tidak ada solusi untuk krisis utang di seluruh daratan Eropa. Pasar akan terus tidak stabil, dan mudah mengalami fluktuasi”. Presiden Prancis Nicolas Sarcozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel, walaupun telah memberikan langkah-langkah utuk mengatasi krisis, tapi tetap saja tidak memiliki dampak yang signifikan di pasar. Bursa saham di zona Euro terus berguguran sampai titik terendah. 



Melihat keadaan tersebut, Indonesia dianggap perlu berhati-hati dan mengambil langkah-langkah pencegahan. Walaupun menurut Pak Darmin Nasution di Harian Republika 16 November 2011 menyebutkan Indonesia akan baik-baik saja selama China dapat tumbuh tinggi. Hal ini diharapkan tidak menjadikan Indonesia lengah dalam menganalisa faktor-faktor pemicu krisis. Terutama dalam hal yang berkaitan dengan hutang luar negeri. 

Hutang merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka melakukan rekonstruksi dan pembangunan ekonomi. Karena penerimaan dalam negeri yang berupa pajak, non-pajak dan bea cukai dianggap belum cukup untuk menutupi biaya pembangunan di semua sektor. Penerimaan pembiayaan melalui hutang luar negeri diperlukan untuk menutupi defisit yang dibutuhkan guna mendanai kebutuhan pembangunan. Seiring dengan kebutuhan dana pembangunan untuk kesejahteraan rakyat yang semakin meningkat, data yang ada menunjukkan bahwa pembiayaan anggaran naik sebesar Rp 112,9 T dari 11,1 T pada tahun 2005 menjadi Rp 124,0 T pada tahun 2012. Meskipun demikian, dari sumber yang sama menyebutkan bahwa perbandingan jumlah hutang luar negeri Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami penurunan dari 47% pada tahun 2005 dan diperkirakan menjadi 24% pada tahun 2012. Angka ini menunjukkan semakin membaiknya kondisi keuangan negara. Diabandingkan dengan negara lain yang rasio hutang terhadap PDB sangat tinggi atau bahkan melebihi, maka Indonesia tergolong relative kecil dan semakin menurun.
Namun, jika ditinjau lagi masalah krisis yang dialami oleh negara-negara Eropa yang disebabkan salah satunya oleh rasio hutang luar negeri terhadap PDB yang tinggi sehingga menyebabkan gagal bayar, maka perlu adanya pengkajian ulang mengenai pentingnya hutang luar negeri ini. Jika hutang luar negeri dianggap penting, namun hasilnya justru malah memberikan mudharat yang lebih besar, maka hal ini tentunya harus dihindari. Tentunya tidak ada negara di dunia yang terbebas dari hutang. Namun, diperlukan adanya kriteria tertentu terhadap hutang luar negeri agar tidak memberikan dampak yang buruk terhadap perekonomian. 
Menanggapi hal tersebut di atas, Islam sudah dari awal memberikan solusinya. Pandangan Islam mengenai hutang sudah jelas dan ditentukan dengan syarat-syarat tertentu. Tujuannya adalah agar umat manusia mendapat keuntungan dan kemashlahatan dari setiap transaksi ekonomi yang dilakukannya. Karena dalam Islam, hutang diapandang sebagai suatu sarana untuk tolong menolong antara orang yang membutuhkan dana dan orang memiliki kelebihan dana.
Siapa lagi yang akan memperjuangkan ekonomi islam sebagai penuntas segala permasalahan ekonomi Indonesia kalau bukan kita sebagai generasi muda Ekonom Rabbani..

Ekonom Rabbani, BISA!
Progres, CERIA...!! :D
Slide Kajian Hutang Luar Negeri [15032012]

oh iya, ini ada video Muslim Entrepreneur Forum 2012, semoga semakin memberi kita semangat untuk terus menjadi ekonom rabbani untuk mensejahterakan perekonomian Indonesia.. :)


1 komentar:

  1. bagaimana agar Pandangan Islam mengenai hutang yang sudah jelas dan ditentukan dengan syarat-syarat tertentu itu dapat diaplikasikan dalam ranah keuangan negara,,mohon dieksplore dikit dunkz,,trims :)

    BalasHapus