Jumat, 13 April 2012

Analisis Transformasi Struktural dan Strategi Pembangunan Indonesia : Studi Komparatif Model Pembangunan Konvensional dengan Model Pembangunan Chapra


Kajian tanggal 12 April 2012, dibuka oleh ka Zukranul Fahmi dan dilanjutkan dengan pembacaan kalam ilahi oleh saudara Abu Umamah. Kajian kali ini sungguh menarik dengan pembicara yang sungguh luar biasa, beliau adalah ka Asep Bary Mukhlis, seorang ketua BEM STEI TAZKIA periode 2010-2011. Beliau membawakan tema “Analisis Transformasi Struktural dan Strategi Pembangunan Indonesia : Studi Komparatif Model Pembangunan Konvensional dengan Model Pembangunan Chapra”. Tema ini merupakan judul skripsi beliau yang mendapat stand up applause dari dosen-dosen.



Melalui persentasi skripsinya Kang Asep akan membahas secara umum tentang pembangunan Ekonomi yang di mana mengkombinasikan  antara Konvensional dan Islam. Pembangunan orde baru terkenal dengan KB, strategi pemerintah untuk meningkatkan kemakmuran ekonomi dengan mengurangi jumlah penduduk. Rusia contoh sukses mengadopsi strategi barat dengan cara mengkonversi penduduk desa untuk bekerja di kota dan dari petani ke industri. Indonesia pun melakukan hal yang sama dalam pengadopsian ini konversi ini yaitu dari –petani ke industri. Namun faktanya pertumbuhan ekonomi pada  sektor industri tak mampu menyuplai kepda sektor pertanian. Inilah penyebab kota kota maju menjadi sumber pertumbuhan ekonmi dan hanya dinikmati oleh orang-orang tertentu saja.

Umer Chapra


Koreksi Chapara dan Heterodox :
Heterodox: kegagalan pembanguan disebabkan karena kebanyakan negara berkembang menginduk pola pembangunan negara (kapitalis, komunis dan sosial demokrat )
Chapra : kegagalan pembangunan NSB karena tidak cermatnya dalam melihat potensi alam, tergiur dalam keberhasilan barat , kemudian melakukan pencangkokan model.
Gollin membuktikan diberbagai negara proses industrisasi di negara berkembang akan terhambat jika tidak diikuti oleh sektor pertanian. Sebelum masa orde baru tingkat perekonomian indonesia terpuruk itu terjadi karena orang orang atas Indonesia terjebak oleh politik mercusuar.
Salah satu alasan nya diturunkan nya atau dikudetanya Sukarno adalah terpuruknya kondisi perekonomian. Undang –undang penanaman modal asing pada orde lama dilarang mentah mentah namun pada saat orde lama ini muai diterima.  Pertumbuhan tumbuh namun itu tidak lama akibat pemerintah menjalankan liberalisasi setengah-setengah  dan kegiatan ekonomi hanya disetir oleh beberapa orang saja yakni orang-orang pemilik modal.
Pertumbuhan ekonomi besar ditandai dengan majunya sektor-sektor pada industri besar, industri baja, dan minyak. Pada awalnya pemerintah Indonesia, memperhatikan sektor jasa dan industri, sedangkan sector pertanian diabaikan, tragisnya ketika krisis kedua sektor ini pun tetap jatuh.
Kabinet Habibie dan Gusdur cukup pro terhadap sector pertanian namun yang disayangkan adalah pemerintahan mereka terlalu singkat dan ketertarikan investasi asing terhadap pertanian Indonesia sangat minim. Ketika PDB naik, income perkapita naik tapi sektor pertanian justru menurun. Diakibatkan karena income perkapita ini hanya disetir oleh industri sehingga mempengaruhi ekspektasi para petani untuk pindah ke kota, yang pada akhirnya terjadi penumpukan di kota namun tak terserap di sektor industri . Urbanisasi prematur yang trdiri dari sektor informal yang di mana sektor ini tak tercatat di PDB national, padahal mereka adalah penyumbang income.
Heterodox dan Chapra berpendapat industrialisasi harus berbasis sumber daya alam. Ternyata strategi ini memberikan output yang lebih maximal dibandingkan konvensional terhadap perekonomian Indonesia yang dimana notabenenya Indonesia ini lebih berpotensial terhadap perekonomian sektor pertanian. Strategi Chapra dan Heterodox  leboih memberikan pemerataan pendapatan. Konvensional memberikan pendapatan lebih tinggi namun tidak merata.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar