Kamis, 24 Mei 2012

Corporate Social Responsibility (CSR) is implemented by the method of charity to touch the society


Konsep tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) yang dikemukakan H. R. Bowen (1953), muncul sebagai akibat karakter perusahaan yang mencari keuntungan tanpa memperdulikan kesejahteraan karyawan, masyarakat, dan lingkungan. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang disahkan 20 Juli 2007 menandai babak baru pengaturan CSR di Indonesia. Sejak diwajibkannya  kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, sontak menuai protes. Pasalnya, aktivitas CSR diasumsikan sebagai aktivitas berdasarkan kerelaan dan bukannya “paksaan”. Sehingga, walaupun UU No. 40 Tahun 2007 telah mulai diberlakukan masih ada saja oknum perusahaan yang belum melaksanakan CSR dengan baik.
Seperti yang telah diketahui bersama bahwa CSR bermula dari filantropis perusahaan. Namun tekanan dari komunitas yang keras, terutama di tengah masyarakat yang kritis macam masyarakat Eropa, menjadikan CSR menjadi semacam social license to operation. CSR  dilakukan  oleh komunitas, bukan oleh Negara.


Jika diperhatikan, masyarakat sekarang hidup dalam kondisi yang dipenuhi beragam informasi dari berbagai bidang, serta dibekali kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pola seperti ini mendorong terbentuknya pola pikir, gaya hidup, dan tuntutan masyarakat yang lebih tajam. Seiring dengan perkembangan tersebut, tumbuh suatu gerakan vigilante consumerism yang kemudian berkembang menjadi ethical consumerism. Dengan adanya CSR ini masyarakat memberikan respon yang baik terhadap perusahaan terkait, research by  Roper Search World Wide indicated that about 75% respondents prefer goods and services producedor marketed companies that give real contribution to their community through development programs. About 66% respondents also indicated that they prefer to switch to other brands with good corporate social image[1].  Sedangkan menurut majalah riset majalah SWA tahun 2006 atas 45 perusahaan menunjukkan CSR bermanfaat memelihara dan meningkatkan citra perusahaan (37,38 persen), hubungan baik dengan masyarakat (16,82 persen), dan mendukung operasional perusahaan (10,28 persen). Maka jika diperhatikan dari dua penelitian tersebut, perusahaan mengeluarkan CSR hanya untuk menjaga citra dan reputasi perusahaan yang positif agar dapat terus menjalankan kegiatan perusahaan.
Banyak fakta yang mengabarkan bahwa keberadaan suatu perusahaan yang besar pada suatu daerah ternyata tidak memberikan kontribusinya kepada masyarakat sekitar, ataupun mereke telah melakukan CSR namun ternyata perusahaan tersebut tidak maksimal dalam pelaksanaannya. Sehingga kita membutuhkan suatu strategi baru dalam pelaksanaan CSR ini, yakni terkait dengan bagaimana penghimpunan dana CSR hingga ke pendistribusian dana CSR tersebut. Dalam hal ini penulis akan mencoba menawarkan suatu konsep baru yakni pengelolaan dana CSR yang akan dikelola sebagaimana pengelolaan zakat di Indonesia. Sehingga diharapkan ketika pengelolaan dana CSR seperti pengelolaan zakat maka CSR tersebut dapat mencapai tujuan yang sebenarnya.


[1] A.B. Susanto, Manajemen Aktual : Topik-topik Aktual Manajemen dalam Riak-riak Perubahan. Penerbit Grasindo Jakarta : 1997, Hal. 213.



CSR by Zakah Method

1 komentar:

  1. terkait dengan Corporate Social Responsibility (CSR), bisa diunduh artikel berikut http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/1421/1/20206621.pdf

    BalasHapus