Selasa, 17 Juli 2012


UANG KERTAS, TIPIS-TIPIS TAPI MENGHANCURKAN
Oleh : Abu Umamah Munir[1]

            Manusia hidup sarat dengan persoalan, dan salah satu persoalan yang tidak henti-hentinya dihadapi adalah persoalan ekonomi. Setiap sebagian dari persoalan-persoalan ekonomi dapat diatasi, akan timbul lagi persoalan lainnya.
            Banyak hal yang dapat menyebabkan semakin memburuknya kondisi ekonomi disuatu tempat dan semakin menggerogoti masyarakat miskin, khususnya Indonesia. Bukan hanya karena merajalelanya praktek riba, mewabahnya penyakit korupsi dikalangan pejabat, penipuan yang sudah menjadi hobi, tetapi juga karena  bangsa ini masih terus terjebak pada satanic finance atau sistem keuangan setan yang diprakarsai negara-negara Barat yang masih ambigu dikalangan masyarakat khususnya masyarakat rendah.
Ada tiga pilar yang menjadi kekuatan sistem keuangan setan. Yaitu, uang kertas, dibolehkannya bank melakukan pencetakan uang, dan sistem riba[2].
Uang kertas yang sekarang menjadi alat tukar kita, sebenarnya uang yang dipaksakan oleh bangsa barat yang telah menguasai dan mengekploitasi perekonomian dunia, sejak runtuhnya kekhalifahan islam. Uang yang kita gunakan sekarang merupakan uang yang tidak layak, karena tidak mempunyai nilai dari uang itu sendiri. Karena itu, di antara langkah yang harus dilakukan umat Islam adalah selain kembali kepada sistem ekonomi syariah juga harus mulai menerapkan uang dinar dan dirham.
Dahulu setelah kekhalifahan runtuh dan di ambil alih oleh kaum barat yang diprakarsai oleh Amerika dan sekutunya (Inggris, Prancis, Jerman dll), tetap mengakui dan menggunakan uang dinar dan dirham sebagai alat untuk bertransaksi karena memiliki real commodity dan storage value. Sampai akhirnya Amerika melanggar perjanjian yang telah disepakati oleh dunia (bahwa syarat untuk mencetak uang harus memiliki jumlah emas atau perak yg sesuai dengan jumlah uang yang ingin dicetak) dengan mencetak uang dalam jumlah besar-besaran secara diam-diam.  
            Riawan Amin dalam bedah bukunya (satanic finance)  mengatakan “tidak perlu menyebutkan siapa biang kerok di balik kebusukan sistem ekonomi saat ini. “Saya tidak perlu menyebutkan siapa. Tapi, saya yakin kita sudah tahu. Bayangkan, penduduk yang jumlahnya hanya 1 sampai 2 persen Amerika bisa menguasai 80 persen perekonomian Amerika. Dan orang-orang inilah yang menguasai 30 persen ekonomi dunia,” papar Riawan lebih jelas.
Indonesia mungkin masih lebih bagus dari Amerika dalam soal keuangan. Karena bank sentralnya masih milik negara. Tapi di Amerika, The Fed atau bank sentral Amerika sama sekali bukan milik negara. Tapi gabungan dari beberapa perusahaan keuangan swasta di sana yang benar-benar bermotifkan profit oriented.
            Sistem kapitalis merupakan ekonomi laba-laba yang cepat meluas dan cepat hancur lebur[3]. Krisis demi krisis dan resesi demi resesi telah menimpa dunia secara periodik. Di antaranya, tahun 1929, krisis inflasi 1970, krisis pasar modal yang terkenal dengan Senin Hitam di tahun 1987, krisis saham manipulatif tahun 2000, krisis pasar modal tahun 2006 yang efeknya telah menghancurkan bursa negara-negara Arab termasuk Saudi, dan krisis keuangan September 2008 hingga saat ini.
Uang sebenarnya mempunyai tiga fungsi. Yaitu, sebagai alat tukar, penyimpan nilai, dan sebagai satuan perhitungan atau timbangan. Uang kertas yang selama ini kita gunakan, baik rupiah, dolar, atau apa pun, sama sekali tidak mempunyai ketiga fungsi itu. Kecuali hanya sebagai alat tukar yang sangat terbatas.
Dunia sekarang selama kurun 85 tahun terakhir sedang menuju kehancuran besar dengan hanya menggunakan uang kertas. Bahkan, sejak 27 tahun lalu, IMF telah melarang anggotanya untuk menggunakan dinar dan dirham sebagai referensi mata uang.
Abu Bakr Ibn Maryam meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Masanya akan tiba pada umat manusia, ketika tidak ada apapun yang berguna selain dinar dan dirham.” (Masnad Imam Ahmad Ibn Hanbal).
 “Wallahu a’lam bissawab......


[1] Mahasiswa STEI TAZKIA
[2] Amin, riawan. Satanic finance
[3] Prof. Dr. Hasan Tsabit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar